Kertas kerja berisi ulasan puisi Wina SW1 dalam buku puisi garis yang disampaikan oleh Dato Kemala pada Komunitas Meja Budaya, Pusat Dokumentasi Sastra, HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 18 September 2007. Selamat membaca!
garis wina sw1:
antara romantisme dan intelektualisme
DATO’ DR. AHMAD KAMAL ABDULLAH—KEMALA
1
Dengan mengucapkan syukur ke hadirat Ilahi, saya ikut mengucapkan selamat dan tahniah kepada penyair Wina SW1 atas terbitnya kumpulan puisi sulung beliau Garis pada tahun ini. Saya dipercayakan oleh penyair untuk menulis kata pengantar singkat dan seterusnya melibatkan saya dalam pembahasan pada hari ini tanggal 18 September 2007 di Meja Budaya HB Jassin, Dewan Kesenian Jakarta. Terima kasih untuk itu.
Wina SW1 (Syafwina Sanusi Wahab) memilih judul Garis untuk kumpulan ini. Dan untuk 101 puisinya itu dibahagikan kepada enam judul sampingan, yakni: 1. Garis Puisi 2. Garis Laut 3. Garis Darah 4. Garis Hati 5. Garis Langkah, dan 6. Garis Tanpa Garis. Kita dapat menduga bagaimana kira-kira nafas puisi yang mendukung imej-imej Hati, Langit, Laut, Api, Bumi dan Garis Tanpa Garis itu. Sedangkan kata Garis itu pun membawa kita kepada suatu perjalanan yang aktif, sebuah perjalanan melalui terowong waktu (times tunnel). Sudah pasti perjalanan itu sesuatu yang menantang arus. Banyaklah pengalaman yang dilalui sewaktu melanjutkan studi di Negara asing (Jepang dalam kontak ini), pertemuan dengan resam budaya dan masyarakat Jepang yang berbeda dari masyarakat di Aceh atau di Indonesia, kontaknya dengan individu-individu per se, yang ilmuan dan non-ilmuan, yang professional dan non-profesional, imbauan kenangan ke kampung halaman, perjuangan negeri Aceh yang belum selesai, dan ini sesekali merantainya kembali kepada nostalgia romantisme lalu. Penyair menghayatinya dan memanfaatkan sensitivity (kepekaan) kepenyairannya dalam bait-bait puisinya yang berfokus kepada percintaan, akliyah dan cinta tanah air (patriotisme). Dia sendiri sebelum mengikuti “garis perjalanannya” itu tentulah mempunyai pengalaman peribadi sebelumnya: yang manis dan pahit. Bolehkah kita menukil kembali puisi “Garis” yang pada hemat saya menjadi pegangan filsafat dan landas perjalanan lahiriah dan batiniah kepenyairannya itu:
Garis
Terkadang jarak yang tidak mungkin kita tembusi
sehingga kita berkencan dengan waktu
dan orang-orang menatapnya penuh tanda tanya
kita juga terlalu suka bercermin di kaca yang sama
jadi kita tidak pernah tahu
mengapa wajah kita jadi berbeda
di cermin yang mereka pasang
rasanya kita tidak perlu mendakwa Tuhan
buat menghukum mereka
lebih baik, kita terus saja berlayar
bercinta di atas angin
dan menelan rindu yang ada diam-diam
hidup juga tidak bisa berbuat lain
apalagi mereka.
1989
Puisi “Garis” ini seolah membayangkan dialog penyair dengan “kekasihnya” yang kini mengutamakan rasionaliti lebih daripada emosional berurai air mata perpisahan. Di sinilah bermulanya sikap penyair yang melihat sesuatu dari sudut akliyah atau intelektualisme. Ini suara wanita baru yang didukung oleh rasa konfidens dengan mengutamakan psikologi “kebangkitan” dan menghargai ilmu. Perpisahan tetap berlaku dan hidup mesti diteruskan, sewajarnya hadapi “jarak” walau sesulit mana sekalipun. Nah, marilah “berkencan dengan waktu” dengan hati yang tahan walaupun ada “tanda tanya” dari persekitarannya. Penyair menyadari sikap lama (cermin lama) masih belum berubah, walhal tanggapan orang lain melihat wajah kita yang berbeda. Nah, sewajarnya jangan menyalahkan takdir (Tuhan), sebaiknya memperbaiki diri dan sikap (belayar dan belajar) dan sedia “ menelan rindu yang ada diam-diam”. Jika tidak hidup (kehidupan) dan “mereka” (publik) tak dapat merubahnya.
Keinginan merubah posisi dengan berorientasi dengan ilmu ini juga pernah dihadapi oleh Vaclav Havel, sastrawan dan mantan presiden Republik Czech and Slovak yang juga menjadi mangsa tebakan dan tekanan dari kiri dan kanan. Katanya “Aku tau bahwa tidak selalu aku benar, tapi kesilapanku biasanya dari kekurangan insights, of attention, of education—rather than from ideological myopia or fanaticism.” (Havel, 1992: 60).
Dari Wina SW1 kita temui sikap dan nada puisi yang sama. Dia mengutamakan ide, pemikiran daripada limpahan emosi, membuat imbangan yang pro dan kon, namun beliau berupaya mengekalkan ekspresi yang puitis dalam ekspresi yang bersahaja. Dalam petikan “Kita Sebut Ia Perpisahan” Wina mengungkapkan:
Inilah perpisahan
maka takperlu tangisi ia
karena esok sebuah awal baru menanti
sebuah pertemuan
dalam kisah yang berbeda
di tempat yang berbeda
karena perpisahan
seperti apapun ia,
takkan mampu memisahkan hati dan rasa
di antara kita.
namun apa yang pernah kita rajut bersama
akan terus ada dalam hati selamanya
sebuah kenangan dan persahabatan.
(Kita Sebut Ia Perpisahan)
Memanglah nada romantisme selalu mengimbau emosi dan perasaan penyair yang baik di mana-mana sebagai contohnya Hafez, Rumi, Amir Hamzah, Rendra dan Ramadhan K.H. Persoalannya sejauh mana mereka dapat menyisipkan mesej kemanusiaan, ketuhanan dan pro-rakyat yang miskin dan hina-dina di dalam puisinya. Tugas ini bukanlah mudah, ia menuntut ketekunan yang kontinu, penghayatan dan memunculkan ekspresi peribadi yang tidak propagandaistik. Hal ini akan wujud apabila wujud “suasana” dan “kesungguhan” kepenyairan pada diri. Bibit-bibit ini ada pada Wina SW1 yang dikemukakannya dalam sebahagian besar puisi dalam Garis. Memberikan “sesuatu” benih pemikiran yang manusiawi tidak mesti dengan polos dan langsung hingga hilang daya estetik atau kesenian puisi tersebut. Amir Hamzah, Ramadhan K.H. dan Rendra misalnya amat bergantung kepada kedalaman warisan budaya para leluhurnya sama ada warisan budaya Melayu di Langkat, atau budaya Sunda dan Jawa. Apabila membaca Amir nah kita akan mesra dengan pantun dan gurindam Melayu. Manakala tembang dan kinanti tentu sahaja dimesrai oleh Rendra dan Ramadhan K.H. Ini menjadi dasar penentu keterikatan para penyair ini memberikan isyarat, bahawa mereka sesungguhnya mempunyai dasar puitika kepenyairannya. Hal yang sama sudah diperlihatkan oleh Sutardji Calzoum Bachri apabila beliau juga melalui hari-hari pemantapannya dengan pantun dan mantera. Penilaian baru terhadap warisan inipun diperlukan bagi memberikan semacam daya estetika yang baru, bukan hanya mewarisi tetapi menerjemahkan bagi suatu kreativitas baru (the neo-creativity terhadap tradisi sampai melahirkan apa yang dinamakan the neo-traditionalism dalam penciptaan kreatif tersebut!). Wina SW1 ini lahir di Negeri Aceh yang kaya dengan sejarah perjuangan menentang kolonialisme sehingga melahirkan pahlawan-pahlwan besar yang abadi dalam lipatan Aceh seperti Tuan Putri Malahayati, Tjoet Nyak Din, Teuku Daud Beureueh dan sebagainya. Dan jangan lupa pula para ulama dan pujangga besar juga menjadi petanda kemasyhuran Aceh di mata dunia Hamzah Fanshuri, Nuruddin al-Raniry, Abdul Rauf al-Singkeli, Shamsuddin al-Sumatrani sehinggalah kepada Chik Ismail Pante Kulu dan A.Hasjmy. Mengarifi posisi mereka dan memesrai dan menghayati makna perjuangan mereka bukanlah seperti mengunyah jagung bakar di lereng menuju ke Puncak atau di Pantai Kuta Bali. Orang-orang besar Aceh ini mempunyai hubungan yang amat akrab dengan al-Khaliq Pencipta Alam yang luas ini. Justeru karena itu kitab suci al-Qur’an dan sunnah Rasul menjadi rujukan yang tetap. Mereka siap sedia mentazkiah diri, mengenal arti keimanan, keislaman dan keihsanan. Dari sana muncul sifat-sifat mahmudah dan menantang yang mazmumah. Peribadi-peribadi ini mengambil contoh kepada Rasulullah dan para khalifah al-Rasyidin. sifat-sifat terpuji ketaqwaan, kejujuran, kealiman, zuhud, sabar, faqir, reda, tawakkal, menjadi pakaian mereka sebagai pemimpin ummah. Justeru karena itu kita menatap Acheh yang hidup karena keanggunan sejarah yang gemilang itu. Wina mencuba menghayati warisan perjuangan ulama, sufi , fuqaha yang dilahirkan oleh tanah tumpah darahnya itu.
Chik Pante Kulu menggelorakan putra-putri Aceh dengan Hikayat Prang Sabil. Hamzah Fansuri mengabadikan syair-syair ketuhanan yang syahdu, landasan agung yang makrifah dalam “Syair Burung Pingai”. Mari kita ingati kembali:
Minuman itu tiada berbagai
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal thaiyyiban pada sekalian sakai
Barang meminum dia tiadakan lalai
Minuman itu terlalu safi
Yogya akan syarbat maulana qadi
Barang memin um dia Tuhan begitu radi
Pada kedua alam ia Hayy Al-Baqi.
Syeikh Abdul Rauf al-Singkeli menulis “Syair Makrifat”:
Jikalau diibarat sebiji kelapa
kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa.
sebiji kelapa ibarat sama
lafaznya empat suatu ma’ana
di situlah banyak orang terlena
sebab pendapat kurang sempurna
kilitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma’rifat.
(Abdul Rauf Singkel)
Cik Pantee Kulu menulis Perang Sabil untuk tatapan generasinya dan selepas dirinya. Dia yakin cita-citanya akan diberkati Allah. Semoga Acheh Darussalam menjunjung harga dirinya dan generasi akan datang tidak lalai dan alpa akan kebesaran Tuhan:
Tidak kekal semua kita, di dunia ini hai bintara
Carilah bekal untuk kembali, jangan lalai hai saudara
Sesampai ajal rezeki habis, meninggalkan kemegahan dengan harta
Meninggalkan negeri kerajaan luas, ketika itu menyesal berputus asa
Menyesali nasib wahai teungku, berawal di kubur azab siksa
(Hikayat Perang Sabil)
II
Namun begitu, Wina SW1 masih insan. Sebagai insan dia melalui garis kepenyairannya sejak gadis remaja, dewasa dengan pelbagai percubaan peribadi. Dan sebagai wanita muda sudah pasti dia juga menghirup “angin perkasihan” yang romantis peribadinya. Wah, tentu sahaja diungkapkan ini secara berseni disembunyikan dalam puisinya dengan simbolisme dan amsal-amsal, membangun metafor dan personifikasi yang minta diarifi pembaca. Di dalam Seulawah: Antologi Sastra Aceh (1995) termuat sebuah puisi Wina SW1:
Tentang “T”
dia pernah minta aku mencuri bulan
buat menghiasi malamnya
dia juga pernah minta aku mengikat waktu
agar hari tetap pagi
dan sekarang
dia ingin aku mencuri matahari
buat menghiasi dadanya.
Jantho, Disember ‘88
Walaupun puisi ini seolah sebagai satu candaan belaka, namun di sebaliknya yang tersirat, adalah permainan awal yang menarik antara seorang peminat yang menduga-duga hati si “aku” sang penyair. Ke mana perannya untuk mencuri “bulan” bagi menghiasi malam, “mengikat waktu” agar hari tetap pagi, “mencuri matahari” buat menghiasi dadanya. Sang penyair tidak berkomentar apa sama ada mengiyakan atau menolak. Puisi pendek ini tetap manis didengar, malah boleh menimbulkan humor bagi menutupi “kesungguhan” permainan sang pemuda itu. Dan kemudian diikuti dengan sebuah yang lain dalam nada yang sadar:
waktu menyajikan sebuah malam
maka mulailah romance in f major
merayapi nadiku
menggigit rasaku
menggelitik nafasku
mainkan mainkan jemarimu
getarkan, getarkan usiamu
sentuh, sentuhlah anganku
kutambah tiga lagi
entah di mana waktu menyimpan
tak satupun nyala tertinggal
(pestapun usai sebelum dimulai)
(Pesta Keduapuluh Empat)
Diksi-diksi malam, nadi, rasa, nafas, jemari, usia, angan, waktu, nyala apabila bersatu diasyikkan oleh serenade romance in f major boleh memberikan asumsi kehangatan majlis makan malam yang asyik itu. Tapi penyair menyembunyikannya dengan mengungkap “pestapun usai sebelum dimulai). Permainan “hide and seek” dalam romantisme puisi Wina SW1 berterusan dalam beberapa petikan puisi yang berikut yang lebih banyak tercipta di Jepang:
Rayuan
Katamu:
Ini kubawakan bulan buat malammu
Tapi
Kau curi, matahariku
sehingga aku tak lagi punya pagi.
1999
Seolah baru di sini kita mendapat jawaban kepada permohonan dalam “Tentang “T”. “Matahari” sebagai lambang kebahagiaan sudah dicuri dan akibatnya? Sang penyair mengakui tidak lagi punya pagi, seolah sudah tak merasa lengkap kebahagiaannya. Dan selanjutnya seolah yakin penyair berkata:
mengapa harus kucari dermaga lain yang
takjelas di mana
jika dermagamu
selalu mengharapkan perahuku kutambatkan
di situ selamanya.
(Mengapa…)
kau tawarkan syair-syair rindu
kubiarkan angin mengembusnya
kau nyanyikan lagu cinta
sambil tersenyum, kukayuhkan lagi perahu
belayar entah samudra mana
Dan kemudian dalam ketidakpastian ditulisnya “Between”:
In the rain we sketch a future
without frame, we hang it on the great wall
space just a shadow in the dark.
Beijing, 20 May 2006
Tetapi percintaan kian berangkat dewasa, seperti yang diakui:
bulan kembali tersipu dalam pekat
tanganmu merengkuh gelap
membenam rindu ke dasar danau
kuembuskan sepi
tetap tanpa suara.
(Momiji—malam itu di Yamanaka-ko)
Puisi-puisi romantis yang pecintaan ini, walaupun tidak seluruhnya membukakan inti rahsia apa yang berlaku karena penyairnya mengekangnya bagi kesadaran intelektual dan rasionalitinya. Namun keromantisannya dapat dirasakan. Ekspresi Wina SW1 yang akliyah ini, mengingatkan saya penyair lain mempunyai kepekaan intelektual-romantisme yang sama yakni Tuty Herati yang juga gesit dengan puisi cintanya dalam sajak 33. Apakah Wina SW1 juga peminat Tuty Herati? Saya kurang arif tentang ini.
III
Intelektualisme Wina SW1 yang mulai hidup sumber apinya itu mengiringi satu sisi kepenyairannya yakni kesadarannya terhadap cinta tanahair atau patriotisme. Walaupun dia jauh di Jepang bagi meneruskan ambisinya untuk menjadi doctor dalam ecology dan beo-energy, namun dia ikut peka kepada setiap yang berlaku di negerinya dan juga Indonesia. Malah kesannya lebih terasa apabila jauh dari tanah tumpah darahnya. Dia mengikuti sepenuhnya apa yang bergolak. Ratusan jiwa yang terkorban, negerinya bermandi darah rakyat yang tak berdosa. Perjuangan sudah disalahtafsir. Beliau juga turut berbelasungkawa atas tragedi Tsunami yang menimpa ribuan jiwa yang maut. Dia menangisi tragedi yang di luar dugaan itu. Banyak sajaknya yang siap sebagai turihan dada yang tersayat atas musibah itu. Tapi, tentu sahaja tidak ada kekuatannya untuk melawan takdir yang terjadi tetaplah terjadi. Dia menulis:
Prolog Bulan
Teman,
negeri penuh cinta dan doa
tempat impian setiap penyair
dan singgahan para pengembara
yang sering kuceritakan padamu
kini jadi kuburan panjang tak bernama
peristirahatan terakhir, mereka yang tercinta
Orang-orang penuh kehangatan
yang selalu menawarkan persaudaraan, dan hatinya
pada siapa saja
yang selalu kubanggakan padamu
kini entah di mana
pergi menuju keabadian panjang
lautku yang indah
yang kerap menghibur sepiku
melantunkan zikir dan bersyair bersama angin
melarutkan semua dalam amarahnya
merenggut hari dan hidup negeriku
sebelum sempat kaujejakkan kaki ke tanahku
sebelum sempat kausambut salam hangat mereka
sebelum sempat kaudengarkan alunan ayat-ayat tuhan
yang ditadaruskan bocah-bocah
dari balee-balee
negeriku kini
rumah tanpa beranda dan penghuni
Kyoto akhir Disember 2004
Wina dapat mencipta puisi yang mengharu kalbu buat ratusan ribu rakyat Aceh antaranya teman setaman sastrawan Aceh seperti Maskirbi korban Tsunami. Dengan amat plastis dia mengungkapkan:
maaf
karena tak ada selimut putih buat tidur panjangmu
atau keranda bertabur melati
dan sholat terakhir di meunasah
:engkau telah baringkan diri dalam diam,
entah di mana.
dan membuat batas panjang dalam sedetik
jarak tipis tak tertembus..
..tanpa Cinta-Nya
buat kita
cinta abadi berbalut rahasia yang tak pernah
maafmu tercerna.
Akhirmu
Laut mengantar pinangan
tanpa jeunamee dan idang meulapeh
maka menikahlah engkau dengan keabadian.
12 Jan 2005
Manifestasi kecintaan penyair dalam kumpulan ini tentulah diwakili oleh “Aceh Kekasihku”. Nah, dalam puisi ini kita dapat merasakan limpahan emosi penyair yang lebih menusuk, meruap dan berbinar. Hal ini dapat disadari oleh karena Aceh menghadapi dua ujian yang besar yakni perlawanan yang dicengkram oleh pemerintah dan kemudiannya menjadi sasaran Tsunami yang maha dahsyat dalam sejarah tamadun di alaf baru ini. Wina jauh di rantau, maka kreativitasnya intens dan “menjadi” dengan puitis dan indah. Ada baiknya direkam seluruhnya:
ACEH KEKASIHKU
MENCINTAIMU, Acehku
bagaikan menari di dasar samudera
bergerak tanpa suara, tanpa udara, tanpa cahaya
tak peduli lautan
menahan likok yang terus kutarikan dengan susah payah
melayangkanku dalam gerakan tanpa pola
ketenangan dunia bawah laut yang memabukkan
memenjarakanku dari dunia penuh cahaya di atas sana
Mencintaimu, Acehku
bagaikan terdampar di gurun tak bertuan
pasir dan angin menjadi lasykar badai
memutingbeliungkan semua langkah dan gerak
matahari membakar segala hidup
menghaguskan segala mati
fatamorgana jadi batas dua dunia
ketika rindu air tak pernah habisnya mengaliri jiwa
Mencintaimu, Acehku
tak pernah mudah
terkadang hatipun nyaris beku
peperangan dalam diri yang tak pernah usai
darah saudara yang terus memerahi bumi
mimpikan damai jadi bingkisan masa depan
bagi anak-anak kita
Mencintaimu, Acehku
adalah cinta tanpa batas
walaupun segala menikam dari segala sisi
rinduku padamu
tanah pembaringan sejuta syuhada
pentas seribu hikayat
negeri seratus pulau sepuluh bahasa
takkan pernah usai
Suara pucuk-pucuk karet dan sawit di bumi Tamiang
aroma pala, nilam dan birunya pantai Barat Selatan
rimbunnya Leusar di tanah Alas
dan hamparan bukit barisan
wangi kopi dan tepuk didong di tanah Gayo
tarian ikan aneka warna di dasar Iboh
legenda Simeulu yang tak pernah habis
dan tanah Pase yang mengawali aqidah ke bumi nusantara
suara senda pembuat emping, penyulam kasab dan kupiah riman di tanah Pidie
syair penari likok dari Pulo yang memabukkan
Rinduku padamu takkan pernah habis, Acehku
seteguk kopi panas dan sepotong jeumpahan di keude Beurawe,
kuah beulangong dan si manok di samahani
atau wajah-wajah bahagia pejual sirih dan pedagang kakilima
dengan panyot ceulot
di rusuk mesjid Baiturrahman yang melantunkan syair agung
Darussalam yang terus membuka pintu dunia
mengajarkan ilmu hati bagi sang penerus
Mencintaimu, Acehku
bagaikan suara azan bagi meunasah dan mesjid-mesjid
terus saja berkumandang setiap hari
mengalirkan kesejukan setiap hari
mengalirkan kesejukan dan kepasrahan pada sang Ilahi Rabbi
Aceh Kekasihku,
walau seribu perih menikam
dan secuil bahagia terus saja dirampas
aku akan selalu mencintaimu.
Lambhuk, 25 Pebruari 2007.
IV
Keintensitian yang berlaku tidak pula menyebabkan berlakunya streotaip kepada ekspresinya. Wina SW1 menggabungkan keseriusan terutama yang intelektual dengan nada romantisme yang suram dan penuh teka-teki. Dia bukanlah penyair yang prolifik, menulis dan memilih sekitar 100 puisi yang mewakilinya dalam jarak waktu 20 atau 25 tahun adalah wajar. Dia tidak memaksa kreativitasnya, meningkatkan pemanfaatan bahasa kesastraan peribadinya, walaupun ini belum disadari khalayak terbanyak karena Wina SW1 tidak menyiarkan sajak-sajaknya dalam ruangan khusus Koran berarus perdana. Mungkin selepas ini Garis akan menerima perhatian para editor puisi di ibu kota Jakarta dan lain-lain boleh mempublikasi puisi-puisinya. Memang terkesan perhatiannya diarahkan juga kepada masalah perempuan seperti yang diutarakannya dalam “Perempuan-perempuan Pantai” yang berkorban menanti para lelakinya mengharung gelombang, namun dia juga menghargai jasa para gurunya (mentornya) yang lelaki seperti kakek R.Soewardi yang ikut mempengaruhinya dalam ratib dan doa, juga terhadap Profesor Ali Hasjmy yang berbuat jasa untuk Aceh dalam seni sastra-budaya-adat istiadat dan pembangunan Universitas Syiah Kuala. Saya beranggapan Aceh dan Indonesia juga Nusantara menyambut kehadiran Wina SW1 sebagai penyair yang punya bobotnya yang tersendiri. Kehadirannya wajar diperhatikan!
*Diucapkan pada pembahasan Garis di Meja Budaya, Pusat Dokumentasi HB Jassin, DKJ, Cikini Jakarta, Indonesia pada 18 September 2007.
WINA SW1
WINA SW1 atau nama lengkapnya SYAFWINA SANUSI WAHAB, lahir di Banda Aceh 20 Pebruari 1969. Dia adalah pekerja seni teater, penulis dan pembaca puisi, peneliti, fotografer dan belakangan ini menekuni koreografi dan menarikan tari Aceh. Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala ini sedang menyelesaikan program PhD-nya dalam bidang bioenergi dan ekologi di Universitas Kyoto, Jepang. Kecintaannya pada tanah kelahirannya, di tengah-tengah kesibukan studinya itu mendorong beliau untuk memperkenalkan Aceh kepada masyarakat Jepang di Kyoto dan sekitarnya lewat tari, puisi, pameran foto, berbicarapada seminar-seminar dan sekolah-sekolah. Katanya “Saya ingin agar orang-orang Jepang dan orang di dunia tahu bahwa Aceh itu bukanlah tempat yang menakutkan. Aceh adalah negeri impian para penyair dan singgahan para pengembara. Tempat bermukim orang-orang berbudaya dengan penuh cinta.”
Puisi-puisinya sudah dipublikasi dalam berbagai antologi bersama, demikian juga karya cerpennya. Tari kreasi ‘KLEUNG’ dan ‘SALEUM’ sudah pernah ditarikan langsung di beberapa kota di kawasan Kansai (Jepang Barat).
DATO’ DR. AHMAD KAMAL ABDULLAH—KEMALA
Mantan Ketua Bahagian Kesusastraan Bandingan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dan Redaktur Dewan Sastra dan Editor majalah puisi PERISA. Dosen Penulisan puisi dan fiksyen di Universitas Malaya Kuala Lumpur. Pemula tradisi Pengucapan Puisi Dunia Kuala Lumpur (1986) Penerima SEA Write Award Thailand (1986). Duduk dalam komite
juri SEA Write (Malaysia), Hadiah Sastra Perdana Malaysia, Hadiah Sastra Mastera (Malaysia-Serantau). memenangkan Hadiah Kumpulan Puisi Hadiah Sastra Perdana Malaysia bagi kumpulan puisi Meditasi (1972), Titir Zikir (1995) dan MIM (1999). Beliau membaca puisi dalam festival Macedonian Poetry Evenings (1986),Puisi Asean (Jakarta, 1978), Moscow (1989), Koln (1989), London Box Theatre (1992), Iowa University (1993), Istiqlal International Poetry Reading (Jakarta, 1995), Santa Cruz (US, 1992), Bosnia Poetry Days (Sarejevo 1998), Puisi Indonesia Internasional 2002. Menjadi felo IWP, Iowa University (1993). Penasihat Editorial untuk Asia IQ-International (Philladelphia). Kini presiden Persatuan Kesusastraan Bandingan Malaysia. Menerima Anugerah Pujangga dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (2003, UPSI), Hadiah Tokoh Sastrawan Negeri Selangor (2005), Anugerah Abdul Rahman Auf (2006). Menerima Doktor Falsafah (2000) daripada Universiti Kebangsaan Malaysia dengan disertasi “Simbolisme Dalam Puisi Islam di Malaysia 1970-1990”. Menerima gelar Dato Paduka Mahkota Selangor (2001). Menerbitkan 9 kumpulan puisi Timbang Terima (1970), meditasi (1972), Era (1975), Kaktus-kaktus (1976), ‘Ayn (1983), Pelabuhan Putih (1989), Titir Zikir (1995), MIM (1999) dan Ziarah Tanah Kudup (2006).