Archive for May, 2005

at the end of my night

Tuesday, May 31st, 2005

 Toji_night






no sounds, but lots of words

no light, but full of bright

no nightmare, but dreams


counting the needle passing the time

try to draw a hope in the darkness

waiting to the sun wake my day a

nd start to run the life again

(tomorrow, another stories are waiting)

Wina SW1

Encounter

Tuesday, May 31st, 2005

Densha2 As life goes, we had passed many places and times. We had met many people in our old days. Some of them are remind in our memories, become close or just for greeting exchange. Some are passed without anything left.

Maybe, we had mad the same people many times. But, we do not know anything about them. Nothing remind inside us. We had sat together in the bus, train, crossing the street together, watching movie at the same cinema, or drinking a cup of coffee at the same coffee shop. We know nothing about each other. We do not want to know more, too. Because we do not have anything between that can be glued us each other.

As time flies, in one place, one moment, one occasion, suddenly we meet. Like everyone in the first meeting, we shake our hands, introduced each other and become friends. When we meet again in the future, we share our smiles and greetings or spending a little time to talk.

Oh…life in the earth with so many people.

How far we had gone to find a place to meet?

How long we had wait for being a friend?

We can make it shorter if we want to care more about people around us. We can make it faster if we love to share our smiles to everyone. Let’s start it now. Who knows, someone who are sitting beside you in the bus will be your best friend in the future. So, please gives them a greetings and your smiles.

my little cousin, NORA

Saturday, May 28th, 2005

Nora Nora is my little cousin that I never met. She is the daughter of my uncle, Hambal and his wife, Linda. I never met her because I am staying in

Japan and she was in Banda Aceh. But I talked with her several times by phone. She was so talkative.

"Who are you?" the first question that she asked to me. Then, she told me about her friends. She was very expresive and has great imaginations. She took a book, stood in front of the other kids, and told them the story from the book. Actually, she cannot read. She pretended that she can read. She created the stories from her imaginations. In another occasion, she was very curious. She asked many unpredictable questions. Like…why is Miwa’s hair not black? Is Miwa Vita an actress? Then, she want to be like Miwa Vita. She monitored what Miwa Vita did curiously.haha

Nora is my little cousin that I never met. She just 3 years-old when tsunami,the giant waves brought her to another world on  26 December 2004 with her cousins, aunt and grandma. We never found her body. That’s why, my uncle & aunt still keep a hope that a little Nora still alive somewhere.

Nora, wherever you are, alive or not, I always proud and love you. I always send a prayer for you.

Kleung, an eagle

Tuesday, May 17th, 2005

Kleung in Aceh language means Eagle, the symbol of freedom and braveness. No space, no border, no frighten, and fly around the world. I created this dance based on traditional Gayo (Central Aceh Region) dance: Guel. Want to know more, please join our cultural night: Indonesia Night 2005 in

Kyoto

.K

Malam Indonesia 2005

Monday, May 16th, 2005

The Association of Indonesia Students in Kyoto (PPI, Persatuan Pelajar Indonesia) will organize the 12th Indonesia Night (malam indonesia or indonesia no yuube) at Kyoto International Community House, Kyoto.

Angklungkolintang_1 This is the annual event since 1993 to introduce Indonesia cultures to Japanese. For detail information, please visit:

www.geocities.jp/melatiindonesia2004/index.html

I will dance and recite my poems , so…do not miss it!

Nyala

Monday, May 16th, 2005

NYALA

cerpen: Wina SW1

(published on Serambi Indonesia Newspaper, Banda Aceh: 1997)

              Api merah menyala, membakar kayu yang tersusun dalam perapian. Nyalanya bergerak ke sana ke mari bagaikan liukan penari perut negeri seribu satu malam, panas menggelora, menghanguskan sepi dan dingin yang bertahta.

              Salju masih berjatuhan di luar sana.

              Aku membenamkan diri dalam bacaan yang sudah lama tak sempat kusentuh. Kesibukanku belakangan ini begitu menyita waktu sehingga bacaan-bacaan itu bertumpuk begitu saja di atas meja. Memang bukan kebiasaanku untuk membiarkan buku-buku baru bertumpuk tanpa dibaca. Tetapi apa boleh buat, tugas-tugas kuliah yang hars kuselesaikan cukup banyak. Aku juga harus belajar keras menghadapi ujian semester, dan bekerja sebagai pelayan setiap malam di sebuah restoran fast food untuk menambah uang saku.

              Beasiswa yang kudapat dari pemerintah pas-pasan. Kalau tak melakukan kerja part-time, mana mungkin aku bisa menabung dan memenuhi hobiku membeli buku-buku seperti ini. Apalagi di negeri asing yang serba mahal ini.

              Akhirnya, tanpa terasa semua bacaan tuntas kubaca.. Aku duduk diam dengan perasaan sedikit kecewa.Aku paling tidak suka jika buku yang kubaca mencapai halaman terakhir.

              Rasa kecewa itu baru terobati setelah aku menemukan bacaan lain. Apalagi pada saat libur dan musim dingin seperti ini, aku punya banyak waktu luang dan malas keluar rumah. Hari masih pagi, tapi aku sudah kehabisan bahan bacaan. Kegiatanku belakangan ini benar-benar padat, sampai-sampai aku tak sempat mencari bacaan baru. Benar-benar merupakan suatu siksaan yang berat saat tak ada lagi yang dapat kubaca karena aku tak punya kegiatan lain untuk kulakukan.

              Akhirnya, aku Cuma duduk di muka jendela, melemparkan pandangan ke luar sambil mendengarkan alunan musik-musik klasik karya-karya master-master musik dunia. Bagian terakhir dari Vienna Blood milik Johan Strauss menyentuh telingaku saat mataku menangkap salju-salju berjatuhan memutihkan bumi. Sesekali kudengar angin memainkan derunya, menggerak-gerakkan dahan-dahan pohon yang sudah terbalut salju. Tidakkah pohon-pohon itu merasa kedinginan dan kesepian? Sanggupkah mereka bertahan? Atau barangkali kematian akan datang lebih cepat, mendahului musim semi, mengakhiri penderitaannya?

              Entah mengapa, saat memikirkan nasib pohon-pohon itu, tiba-tiba aku teringat baris-baris puisi Emily Dickison, penyair wanita Amerika kelahiran Massachusetts yang selama hidupnya menulis hampir duaribu puisi, tapi hanya delapan puisinya yang dipublikasikan.

              Because I could not stop for death

              He kindly stopped me

              The carriage held but just ourselves

              And immortality

             

              Bayang-bayang kematian tiba-tiba memenuhi benakku. Berapa lama lagi ia akan datang menjemputku? Dan bila aku mati nanti, adakah orang yang akan menangisiku? Ah, siapa pula yang akan merasa kehilangan kalau aku mati nanti. Aku toh bukan siapa-siapa dan tak punya siapa-siapa lagi. Semua orang yang kumiliki sudah pergi dan tak mungkin kujangkau lagi.

              Aku tak menyesali kesendirianku, karena kesendirian membuatku memiliki lebih banyak waktu buat merenungi banyak hal. Kesendirian juga membuatku semakin kuat bertahan menghadapi berbagai cobaan dan tantangan. Namun tak dapat kupungkiri kalau kesendirian terkadang membuatku terpuruk dalam sepi yang panjang, mengurungku di sana dalam kegelisahan tak berujung.

              Lama-lama, keadaan itu membuatku terpaksa membiasakan diri menghadapi sepi. Tak ada pilihan lain untuk bertahan, terlalu lama dikukung sepi membuatku terpaksa mengakrabinya, menikmatinya, dan terkadang saat aku terjebak di tengah keramaian, aku malah merindukan sepi itu datang menyapa.

              Leonore Overture No 3 milik Beethoven baru saja berakhir. Kurasakan dingin menyentuhku. Kupandangi tungku perapian di hadapanku, masih ada bara yang menyisakan sedikit warna merahnya. Kalau kubiarkan saja, mungkin sebentar lagi akan langsung padam. Namun aku malas menambah lagi kayu-kayu untuk membesarkan nyalanya. Lagipula persediaan kayuku juga sudah semakin menipis.

              Seandainya aku masih punya banyak kayu buat kutambahkan dalam perapian itu, aku yakin, panasnya pun takkan mampu mengusir dingin dan sepi yang selalu terasa saat aku tak tahu harus mengerjakan apa. Saat-saat seperti ini, rasa dingin dan sepi terasa begitu menyiksa, menusuk-nusuk bagaikan sembilu.

              Kubuka lagi buku yang baru selesai kubaca tadi dan mulai membacanya kembali dari awal. Kadang-kadang ada bacaan yang tetap menarik biarpun dibaca berulangkali. Memang benar, sebentar saja, aku sudah larut kembali dalam bacaanku, seolah-olah buku itu baru pertama sekali kubaca.

              “Kau menungguku, ya?” sebuah suara tiba-tiba mengejutkanku. Seorang lelaki berdiri di hadapanku. Aku tak tahu siapa dia. Tubuhnya tinggi atletis berbalut blue jeans dan sweater coklat muda, membuanya kelihatan gagah. Apalagi ditambah dengan tampangnya yang lumayan. Tampangnya itu, mengingatkanku pada seseorang. Aku tak tahu siapa, tapi rasa-rasanya wajah ini tak begitu asaing bagiku.

              “Siapa kamu?” tanyaku setelah berhasil meredakan kekagetan.

              “Barangkali kamu tak kenal aku, tapi aku kenal kamu,” katanya.

              “Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanyaku keheranan karena memang aku sama sekali tak mendengar pintu diketuk dan dibuka. Bukankah tadi semua pintu dan jendela sudah kukunci rapat-rapat? Atau mungkin ada pintu yang lupa kukunci?

              “Kaulupa mengunci pintu itu,“ ujarnya seraya menunjuk pintu samping ruangan ini. “Karenanya aku bisa langsung masuk. Sebenarnya, sudah sejak tadi aku di sini memperhatikanmu. Kamu tak tahu karena terlalu larut dalam bacaanmu,” sambungnya sambil duduk di hadapanku.

              Bau Ciel Blanc menyentuh hidunku. Baunya terlalu keras membuatku tak suka. Barangkali sebelum datang ke rumahku, dia telah menyemprotkan hampir seluruh botol parfumnya.

              “Kenapa kaubiarkan tungkumu tanpa nyala?” tanyanya sambil menunjuk pada perapian.

              “Apa pedulimu?”

              “Aku peduli. Jadi izinkan aku menyalakannya.”

              “Tidak perlu,” jawabku ketus.

              “Tapi kayu-kayu dalam tungkumu sudah hampir habis terbakar. Sebentar lagi ia akan kehilangan nyalanya. Kamu akan kedinginan.”

              “Itu bukan urusanmu.”

              “Apa artinya sebuah tungku tanpa nyala?” desaknya lagi.

              “Biarkan saja. Walaupun tidak selalu nyala, semua orang tahu kalau tungku itu lambing kehangatan.”

              “Ah, kau terlalu banyak membaca puisi.”

              Aku diam saja, melanjutkan bacaanku, mencoba tak memperdulikan kehadirannya. Aku tak tahu harus bagaimana, mencegahnya atau membiarkan saja dia menyalakan tungku buatku. Terus terang, aku suka melihat tungk itu terus menyala, karena aku suka memandangi gerakan api yang begitu lembut dan merasakan kehangatan yang ditimbulkannya, tapi aku tak suka orang asing melakukannya.

              Caranya menyalakan tungku mengingatkanku pada lelakiku yang biasanya selalu menyiapkan kayu untuk perapian itu. Musim dingin seperti ini, biasanya dia sudah siap dengan tumpukan kayu bakar buat memenuhi tungku itu. Dia selalu menjaga agar tungku itu tak kehilangan nyalanya. Aku suka sekali memperhatikan caranya menyusun kayu-kayu sambil menyalakan api. Kadang-kadang, saat api hampir padam, dia menyentuh bara dengan tongkat besi dan mengipas-ngipaskannya.

              “Aku akan selalu menjaga agar perapian ini selalu menyala,” begitu janjinya dulu dan aku percaya. Dia selalu menepati janjinya, dia selalu siap saat kami membutuhkan perapian ini. Sampai suatu hari…

              “Kumohon, izinkan aku menyalakannya, agar dingin tak lagi menyentuhmu,” begitu suara lelaki itu memutuskan lamunanku.

              “Apa pedulimu, kalaupun dingin menyentuhku?”

              “Tentu saja aku peduli. Aku…” dia tak melanjutkan ucapannya, hanya menatapku dalam-dalam. “Aku mungkin tak bisa mencegah dingin menyentuhmu, tapi aku tak ingin dingin sampai membekukan hatimu. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah membagikan kehangatan dengan membiarkan tungku ini tetap nyala,” jelasnya sambil menatapku lembut.

              “Kau seperti penyair saja.”

              “Aku belajar darimu,” katanya sambil menyentuh bara-bara dalam tungku yang nyaris padam. Mengipas-ngipas sampai api kembali menyala di sana.

              “Siapa kamu?” aku kembali mengulangi pertanyaanku.

              Lalu dari mulutnya mengalirlah serangkaian kalimat penjelasan. Dia bercerita tentang dirinya dan tentang apa saja yang ingin kuketahui tentangnya. Suara dan ceritanya membuatku nyaris terlena. Semakin lama aku mendengar ceritanya, semakin aku yakin bahwa wajahnya tak begitu asing buatku. Rasanya aku pernah melihatnya, sayangnya, aku tak tahu kapan dan di mana. Anehnya lagi, semakin aku tahu banyak tentang dia, semakin aku merasa asing dengannya.

              “Kau melamun? Apa yang kaulamunkan?”

              “Tidak, aku hanya sedang berpikir tentangmu,” kataku.

              “Aku tidak heran Itu hal yang wajar,” katanya penuh percaya diri.

              Dia tersenyum. Senyumannya itu, kupikir, mampu memabukkan wanita mana saja.

              “Aku heran, mengapa kau tiba-tiba muncul di sini. Tentu kamu punya alasan yang kuat menerobos cuaca sedingin ini. Aku tak percaya kalau kau mau melakukan itu hanya sekedar untuk menyalakan tungku ini.”

              Dia terdiam sejenank, “Terus terang, aku ingin menemanimu dan membuat tungkumu terus menyala.”

              “Mengapa kamu harus repot-repot memikirkanku? Aku sedang tak butuh teman dan kalaupun aku butuh, itu bukan kamu. Kupikir, tungku ini bukan tanggung jawabmu.

              Dia tak peduli atas ucapanku. “Kalau kau tak punya lagi kayu bakar kamu bisa minta padaku, aku masih punya banyak persediaan.

              Sebelum aku sempat berkomentar, lelaki itu telah keluar ruangan dan tak lama muncul kembali dengan setumpuk kayu bakar.

              “Kamu mau apa sebenarnya?” tanyaku.

              “Menambah kayu perapian ini biar kamu tidak kedinginan,” katanya sambil menambah kayu dalam perapian.

              “Siapa yang menyuruhmu menyalakannya?”

              “Tak ada yang menyuruhku. Aku suka melakukannya, aku tak ingin kamu kedinginan.”

              “Apa pedulimu, aku kepanasan atau kedinginan.”

              “Tentu saja aku peduli. Aku tak mau kamu mati kedinginan. Lagipula, apa salahnya?”

              “Tak ada yang salah, hanya aku tak suka. Itu saja,”

              “Aku tak punya maksud apa-apa. Aku hanya ingin perapian ini tetap menyala, jadi ruanganmu ini tetap hangat dan kamu tidak kedinginan.”

              “Aku tidak tanya apa maksudmu. Aku cuma mau kamu membiarkan tungku itu tetap begitu,” balasku tak mau kalah. “Terimakasih atas kebaikanmu. Sekarang, tinggalkan aku.”

              “Aku…”

              “Kuhargai maksud baikmu, tapi aku tak ingin kamu melakukannya.”

              “Nona, aku tak mungkin memaksamu. Walaupun kamu tak mengakui, aku tahu pasti, kalau kamu sebenarnya membutuhkanku.” Berkata demikian, matanya menghujam ke arahku dan aku mencoba menghindar. “Aku pikir, orang lain yang melihatmu, tak ingin membiarkan dirimu larut dalam dingin dan sepi. Sebaiknya, buanglah keangkuhanmu itu.”

              Melihatku diam saja, dia melanjutkan,” Izinkan aku memasuki hatimu dan membiarkan ia selalu menyala. Kamu toh tak mungkin mengharapkan kekasihmu kembali lagi buat menyalakannya.

              Ya, lelakiku memang tak mungkin kembali. Badai telah menghempasnya entah ke mana saat dia mengumpulkan kayu buat perapian ini. Kadang-kadang aku berharap dia muncul kembali di hadapanku dengan setumpuk kayu di tangannya. Seandainya, tak ada kayu yang dibawanya, akupun akan selalu membiarkan pintu terbuka buatnya.

              “Biarkan aku mengobati lukamu,” suara lelaki itu kembali menyadarkanku.

              Aku tiba-tiba ingat, di mana aku pernah melihatnya. Bergegas kuhampiri jendela dan memandang ke rumah terdekat. Aku ingat, lelaki ini adalah tetanggaku. Aku sering melihatnya menyalakan perapian di rumah itu, sementara seorang perempuan duduk memandanginya. Kali ini, perapian di sana seperti tak menyala. Perempuan itu pun tak duduk di kursi goyang seperti biasanya. Dia kelihatan berjalan ke sana kemari dan kelihatan gelisah.

              “Aku ucapkan terimakasih atas perhatianmu,” kataku mantap. “Kalau kamu memang punya persediaan kayu yang banyak, tak perlu kauberikan buatku. Aku tak membutuhkannya dan aku pun masih sanggup bertahan. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini.

              Dia mencoba membantah, tapi tak kubiarkan. “Lebih baik kamu pulang ke rumahmu. Perempuan itu membutuhkanmu, tungkunya hampir padam. Bukankah seharusnya kamu ada untuk menjaga tungkunya agar tetap nyala?” sindirku.

              “Kalau setelah itu, kamu masih punya banyak sisa kayu bakar, bagikan saja pada perempuan-perempuanmu yang lain. Jangan buatku.”

              “Aku tidak punya perempuan lain.”

              “Aku tak perlu alasanmu. Lebih baik aku bertahan seperti ini daripada menjadi salah satu perempuanmu. Sekarang, sebaiknya tinggalkan aku dan bawa kembali semua kayu bakarmu, sebelum aku melemparkanmu bersama kayu-kayumu itu ke dalam perapianku.” Kataku tegas.

              Diapun bergegas meninggalkanku. Sebelumnya, masih sempat dilemparkan pandangan memohon. Tetapi pendirianku tetap tidak berubah. Segera kukunci semua pintu rapat-rapt biar tak ada lagi lelaki lain yang mencoba masuk.

             Pelan-pelan kusibak tirai jendela. Dari jauh bisa kulihat tungku mereka menyala, apinya meliuk-liuk ke sana ke mari. Perempuan itu duduk memandangi perapian, sementara lelaki itu berdiri sambil memegang bahunya. Aku kaget, karena lelaki itu sedang memandang ke arahku. Segera kutarik tirai rapat-rapat, menjauh dari sana.

              Aku menatap ke arah tungkuku yang hampir kehilangan nyalanya. Seandainya saja selalu ada nyala yang berkobar di sana… Ah, harusnya kubiarkan saja dia menyalakannya. Namun setelah itu, apakah aku tega dan bisa tenang menikmati kehangatan yang dipancarkan nyala tungku ini, sementara orang lain kehilangan nyalanya? Berapa banyak perapian lain yang akan kehilangan nyalanya biala aku membiarkan lelaki itu menyalakan tungku ini?

              Pelan-pelan aku melangkah dalam tungku itu dan menghanguskan diri di sana. Setelah ini, tak ada orang yang merasa perlu menyalakan tungku ini lagi dan akupun tak perlu menunggu sampai ia kehilangan nyalanya.

(Beurawe, September 1996)

Catatan hari

Monday, May 16th, 2005

Catatan hari

Wina SW1

Suatu pagi di sebuah negeri berpasir putih:

   langit dan matahari bertukar sapa

   angin meliuk perlahan, bersenda gurau

   dedaunan menunduk malu

   pagi bergerak memulai minggu seperti biasa

seketika bumi menggeliat

   membelah yang tak tersirat

              laut pun menghamburkan diri

                            gelombang menyentuh langit

                            buih-buih memutihkan setiap celah

                                          tanah menghamburkan diri

                            tarian maut pun mulai dipentaskan

              sang sakala memecah pagi

pintu-pintu rumahNya dibukakan

suara rateb,

pekik,

   takbir,

tangis,

   raungan

                   dan diam

hanyutkan asa, mimpi dan esok

lebur satu dalam hari

memenuhi setiap ruang Tuhan

tangan-tangan menggapai Pota’llah

memohon segala cintaNya

       bertarung (usia dan titik berebut hidup)

batas antara dua dunia hanya sejarak kejapan

sejarah dan masa depan bertaruh waktu

potret abadi tak lengkang waktu

: sebuah negeri porak poranda

rakyat yang terkapar tak bernama

tubuh tanpa suara

cinta, pilu, benci, luka, pasrah jadi tak berbatas

hari ini di negeri itu:

semua hilang, semua berganti,

tapi tak ada usai

di

sana

pertarungan antara murka, bimbang dan cinta

kekalahan dan kemenangan

bagai tak ada beda

             

besok dan besoknya lagi:

jalan masih panjang, 

melangkah di antara serpihan duka

menata retak tanpa akhir

:hidup adalah perjuangan

Kyoto

, 1 Januari 2005

Peraduan Putih

Monday, May 16th, 2005

Peraduan putih

Wina SW1

selimut berajut doa dan kenangan

akan menghangati tidurmu

mimpi-mimpi yang tercecer

akan mengaliri darahku

: aku masih punya pagi dan matahari

Obaku, 6 Januari 2005

Rindu

Monday, May 16th, 2005

Rindu
Wina SW1

air menyentuh tiang-tiang titi
orang-orang berlari melintas sungai
aku duduk dalam hening
meneguk maccha terakhir
: mimpikan percakapan tak pernah berakhir

Kamogawa, 10 Januari 2005

Prolog Bulan

Monday, May 16th, 2005

Prolog Bulan

Wina SW1

teman,

negeri penuh cinta dan doa

tempat impian setiap penyair

dan singgahan para pengembara

yang sering kuceritakan padamu

kini jadi kuburan panjang tak bernama

peristirahatan terakhir, mereka yang tercinta

orang-orang penuh kehangatan

yang selalu menawarkan persaudaraan dan hatinya

pada siapa saja

yang selalu kubanggakan padamu

kini entah di mana

pergi menuju keabadian panjang

lautku yang indah

yang kerap menghibur sepiku

melantunkan zikir  dan bersyair bersama angin

melarutkan semua dalam amarahnya

merenggut hari dan hidup negeriku

sebelum sempat kaujejakkan kaki ke tanahku

sebelum sempat kausambut salam hangat mereka

sebelum sempat kaurasakan keindahan itu

sebelum sempat kaudengarkan alunan ayat-ayat tuhan

yang ditadaruskan bocah-bocah

dari balee-balee

negriku, kini

rumah tanpa beranda dan penghuni

Kyoto

, akhir Januari 2004