Archive for September, 2007
dari debat buku
Tuesday, September 25th, 2007Kertas kerja berisi ulasan puisi Wina SW1 dalam buku puisi garis yang disampaikan oleh Dato Kemala pada Komunitas Meja Budaya, Pusat Dokumentasi Sastra, HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 18 September 2007. Selamat membaca!
garis wina sw1:
antara romantisme dan intelektualisme
DATO’ DR. AHMAD KAMAL ABDULLAH—KEMALA
1
Dengan mengucapkan syukur ke hadirat Ilahi, saya ikut mengucapkan selamat dan tahniah kepada penyair Wina SW1 atas terbitnya kumpulan puisi sulung beliau Garis pada tahun ini. Saya dipercayakan oleh penyair untuk menulis kata pengantar singkat dan seterusnya melibatkan saya dalam pembahasan pada hari ini tanggal 18 September 2007 di Meja Budaya HB Jassin, Dewan Kesenian Jakarta. Terima kasih untuk itu.
Wina SW1 (Syafwina Sanusi Wahab) memilih judul Garis untuk kumpulan ini. Dan untuk 101 puisinya itu dibahagikan kepada enam judul sampingan, yakni: 1. Garis Puisi 2. Garis Laut 3. Garis Darah 4. Garis Hati 5. Garis Langkah, dan 6. Garis Tanpa Garis. Kita dapat menduga bagaimana kira-kira nafas puisi yang mendukung imej-imej Hati, Langit, Laut, Api, Bumi dan Garis Tanpa Garis itu. Sedangkan kata Garis itu pun membawa kita kepada suatu perjalanan yang aktif, sebuah perjalanan melalui terowong waktu (times tunnel). Sudah pasti perjalanan itu sesuatu yang menantang arus. Banyaklah pengalaman yang dilalui sewaktu melanjutkan studi di Negara asing (Jepang dalam kontak ini), pertemuan dengan resam budaya dan masyarakat Jepang yang berbeda dari masyarakat di Aceh atau di Indonesia, kontaknya dengan individu-individu per se, yang ilmuan dan non-ilmuan, yang professional dan non-profesional, imbauan kenangan ke kampung halaman, perjuangan negeri Aceh yang belum selesai, dan ini sesekali merantainya kembali kepada nostalgia romantisme lalu. Penyair menghayatinya dan memanfaatkan sensitivity (kepekaan) kepenyairannya dalam bait-bait puisinya yang berfokus kepada percintaan, akliyah dan cinta tanah air (patriotisme). Dia sendiri sebelum mengikuti “garis perjalanannya” itu tentulah mempunyai pengalaman peribadi sebelumnya: yang manis dan pahit. Bolehkah kita menukil kembali puisi “Garis” yang pada hemat saya menjadi pegangan filsafat dan landas perjalanan lahiriah dan batiniah kepenyairannya itu:
Garis
Terkadang jarak yang tidak mungkin kita tembusi
sehingga kita berkencan dengan waktu
dan orang-orang menatapnya penuh tanda tanya
kita juga terlalu suka bercermin di kaca yang sama
jadi kita tidak pernah tahu
mengapa wajah kita jadi berbeda
di cermin yang mereka pasang
rasanya kita tidak perlu mendakwa Tuhan
buat menghukum mereka
lebih baik, kita terus saja berlayar
bercinta di atas angin
dan menelan rindu yang ada diam-diam
hidup juga tidak bisa berbuat lain
apalagi mereka.
1989
Puisi “Garis” ini seolah membayangkan dialog penyair dengan “kekasihnya” yang kini mengutamakan rasionaliti lebih daripada emosional berurai air mata perpisahan. Di sinilah bermulanya sikap penyair yang melihat sesuatu dari sudut akliyah atau intelektualisme. Ini suara wanita baru yang didukung oleh rasa konfidens dengan mengutamakan psikologi “kebangkitan” dan menghargai ilmu. Perpisahan tetap berlaku dan hidup mesti diteruskan, sewajarnya hadapi “jarak” walau sesulit mana sekalipun. Nah, marilah “berkencan dengan waktu” dengan hati yang tahan walaupun ada “tanda tanya” dari persekitarannya. Penyair menyadari sikap lama (cermin lama) masih belum berubah, walhal tanggapan orang lain melihat wajah kita yang berbeda. Nah, sewajarnya jangan menyalahkan takdir (Tuhan), sebaiknya memperbaiki diri dan sikap (belayar dan belajar) dan sedia “ menelan rindu yang ada diam-diam”. Jika tidak hidup (kehidupan) dan “mereka” (publik) tak dapat merubahnya.
Keinginan merubah posisi dengan berorientasi dengan ilmu ini juga pernah dihadapi oleh Vaclav Havel, sastrawan dan mantan presiden Republik Czech and Slovak yang juga menjadi mangsa tebakan dan tekanan dari kiri dan kanan. Katanya “Aku tau bahwa tidak selalu aku benar, tapi kesilapanku biasanya dari kekurangan insights, of attention, of education—rather than from ideological myopia or fanaticism.” (Havel, 1992: 60).
Dari Wina SW1 kita temui sikap dan nada puisi yang sama. Dia mengutamakan ide, pemikiran daripada limpahan emosi, membuat imbangan yang pro dan kon, namun beliau berupaya mengekalkan ekspresi yang puitis dalam ekspresi yang bersahaja. Dalam petikan “Kita Sebut Ia Perpisahan” Wina mengungkapkan:
Inilah perpisahan
maka takperlu tangisi ia
karena esok sebuah awal baru menanti
sebuah pertemuan
dalam kisah yang berbeda
di tempat yang berbeda
karena perpisahan
seperti apapun ia,
takkan mampu memisahkan hati dan rasa
di antara kita.
namun apa yang pernah kita rajut bersama
akan terus ada dalam hati selamanya
sebuah kenangan dan persahabatan.
(Kita Sebut Ia Perpisahan)
Memanglah nada romantisme selalu mengimbau emosi dan perasaan penyair yang baik di mana-mana sebagai contohnya Hafez, Rumi, Amir Hamzah, Rendra dan Ramadhan K.H. Persoalannya sejauh mana mereka dapat menyisipkan mesej kemanusiaan, ketuhanan dan pro-rakyat yang miskin dan hina-dina di dalam puisinya. Tugas ini bukanlah mudah, ia menuntut ketekunan yang kontinu, penghayatan dan memunculkan ekspresi peribadi yang tidak propagandaistik. Hal ini akan wujud apabila wujud “suasana” dan “kesungguhan” kepenyairan pada diri. Bibit-bibit ini ada pada Wina SW1 yang dikemukakannya dalam sebahagian besar puisi dalam Garis. Memberikan “sesuatu” benih pemikiran yang manusiawi tidak mesti dengan polos dan langsung hingga hilang daya estetik atau kesenian puisi tersebut. Amir Hamzah, Ramadhan K.H. dan Rendra misalnya amat bergantung kepada kedalaman warisan budaya para leluhurnya sama ada warisan budaya Melayu di Langkat, atau budaya Sunda dan Jawa. Apabila membaca Amir nah kita akan mesra dengan pantun dan gurindam Melayu. Manakala tembang dan kinanti tentu sahaja dimesrai oleh Rendra dan Ramadhan K.H. Ini menjadi dasar penentu keterikatan para penyair ini memberikan isyarat, bahawa mereka sesungguhnya mempunyai dasar puitika kepenyairannya. Hal yang sama sudah diperlihatkan oleh Sutardji Calzoum Bachri apabila beliau juga melalui hari-hari pemantapannya dengan pantun dan mantera. Penilaian baru terhadap warisan inipun diperlukan bagi memberikan semacam daya estetika yang baru, bukan hanya mewarisi tetapi menerjemahkan bagi suatu kreativitas baru (the neo-creativity terhadap tradisi sampai melahirkan apa yang dinamakan the neo-traditionalism dalam penciptaan kreatif tersebut!). Wina SW1 ini lahir di Negeri Aceh yang kaya dengan sejarah perjuangan menentang kolonialisme sehingga melahirkan pahlawan-pahlwan besar yang abadi dalam lipatan Aceh seperti Tuan Putri Malahayati, Tjoet Nyak Din, Teuku Daud Beureueh dan sebagainya. Dan jangan lupa pula para ulama dan pujangga besar juga menjadi petanda kemasyhuran Aceh di mata dunia Hamzah Fanshuri, Nuruddin al-Raniry, Abdul Rauf al-Singkeli, Shamsuddin al-Sumatrani sehinggalah kepada Chik Ismail Pante Kulu dan A.Hasjmy. Mengarifi posisi mereka dan memesrai dan menghayati makna perjuangan mereka bukanlah seperti mengunyah jagung bakar di lereng menuju ke Puncak atau di Pantai Kuta Bali. Orang-orang besar Aceh ini mempunyai hubungan yang amat akrab dengan al-Khaliq Pencipta Alam yang luas ini. Justeru karena itu kitab suci al-Qur’an dan sunnah Rasul menjadi rujukan yang tetap. Mereka siap sedia mentazkiah diri, mengenal arti keimanan, keislaman dan keihsanan. Dari sana muncul sifat-sifat mahmudah dan menantang yang mazmumah. Peribadi-peribadi ini mengambil contoh kepada Rasulullah dan para khalifah al-Rasyidin. sifat-sifat terpuji ketaqwaan, kejujuran, kealiman, zuhud, sabar, faqir, reda, tawakkal, menjadi pakaian mereka sebagai pemimpin ummah. Justeru karena itu kita menatap Acheh yang hidup karena keanggunan sejarah yang gemilang itu. Wina mencuba menghayati warisan perjuangan ulama, sufi , fuqaha yang dilahirkan oleh tanah tumpah darahnya itu.
Chik Pante Kulu menggelorakan putra-putri Aceh dengan Hikayat Prang Sabil. Hamzah Fansuri mengabadikan syair-syair ketuhanan yang syahdu, landasan agung yang makrifah dalam “Syair Burung Pingai”. Mari kita ingati kembali:
Minuman itu tiada berbagai
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal thaiyyiban pada sekalian sakai
Barang meminum dia tiadakan lalai
Minuman itu terlalu safi
Yogya akan syarbat maulana qadi
Barang memin um dia Tuhan begitu radi
Pada kedua alam ia Hayy Al-Baqi.
Syeikh Abdul Rauf al-Singkeli menulis “Syair Makrifat”:
Jikalau diibarat sebiji kelapa
kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa.
sebiji kelapa ibarat sama
lafaznya empat suatu ma’ana
di situlah banyak orang terlena
sebab pendapat kurang sempurna
kilitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma’rifat.
(Abdul Rauf Singkel)
Cik Pantee Kulu menulis Perang Sabil untuk tatapan generasinya dan selepas dirinya. Dia yakin cita-citanya akan diberkati Allah. Semoga Acheh Darussalam menjunjung harga dirinya dan generasi akan datang tidak lalai dan alpa akan kebesaran Tuhan:
Tidak kekal semua kita, di dunia ini hai bintara
Carilah bekal untuk kembali, jangan lalai hai saudara
Sesampai ajal rezeki habis, meninggalkan kemegahan dengan harta
Meninggalkan negeri kerajaan luas, ketika itu menyesal berputus asa
Menyesali nasib wahai teungku, berawal di kubur azab siksa
(Hikayat Perang Sabil)
II
Namun begitu, Wina SW1 masih insan. Sebagai insan dia melalui garis kepenyairannya sejak gadis remaja, dewasa dengan pelbagai percubaan peribadi. Dan sebagai wanita muda sudah pasti dia juga menghirup “angin perkasihan” yang romantis peribadinya. Wah, tentu sahaja diungkapkan ini secara berseni disembunyikan dalam puisinya dengan simbolisme dan amsal-amsal, membangun metafor dan personifikasi yang minta diarifi pembaca. Di dalam Seulawah: Antologi Sastra Aceh (1995) termuat sebuah puisi Wina SW1:
Tentang “T”
dia pernah minta aku mencuri bulan
buat menghiasi malamnya
dia juga pernah minta aku mengikat waktu
agar hari tetap pagi
dan sekarang
dia ingin aku mencuri matahari
buat menghiasi dadanya.
Jantho, Disember ‘88
Walaupun puisi ini seolah sebagai satu candaan belaka, namun di sebaliknya yang tersirat, adalah permainan awal yang menarik antara seorang peminat yang menduga-duga hati si “aku” sang penyair. Ke mana perannya untuk mencuri “bulan” bagi menghiasi malam, “mengikat waktu” agar hari tetap pagi, “mencuri matahari” buat menghiasi dadanya. Sang penyair tidak berkomentar apa sama ada mengiyakan atau menolak. Puisi pendek ini tetap manis didengar, malah boleh menimbulkan humor bagi menutupi “kesungguhan” permainan sang pemuda itu. Dan kemudian diikuti dengan sebuah yang lain dalam nada yang sadar:
waktu menyajikan sebuah malam
maka mulailah romance in f major
merayapi nadiku
menggigit rasaku
menggelitik nafasku
mainkan mainkan jemarimu
getarkan, getarkan usiamu
sentuh, sentuhlah anganku
kutambah tiga lagi
entah di mana waktu menyimpan
tak satupun nyala tertinggal
(pestapun usai sebelum dimulai)
(Pesta Keduapuluh Empat)
Diksi-diksi malam, nadi, rasa, nafas, jemari, usia, angan, waktu, nyala apabila bersatu diasyikkan oleh serenade romance in f major boleh memberikan asumsi kehangatan majlis makan malam yang asyik itu. Tapi penyair menyembunyikannya dengan mengungkap “pestapun usai sebelum dimulai). Permainan “hide and seek” dalam romantisme puisi Wina SW1 berterusan dalam beberapa petikan puisi yang berikut yang lebih banyak tercipta di Jepang:
Rayuan
Katamu:
Ini kubawakan bulan buat malammu
Tapi
Kau curi, matahariku
sehingga aku tak lagi punya pagi.
1999
Seolah baru di sini kita mendapat jawaban kepada permohonan dalam “Tentang “T”. “Matahari” sebagai lambang kebahagiaan sudah dicuri dan akibatnya? Sang penyair mengakui tidak lagi punya pagi, seolah sudah tak merasa lengkap kebahagiaannya. Dan selanjutnya seolah yakin penyair berkata:
mengapa harus kucari dermaga lain yang
takjelas di mana
jika dermagamu
selalu mengharapkan perahuku kutambatkan
di situ selamanya.
(Mengapa…)
kau tawarkan syair-syair rindu
kubiarkan angin mengembusnya
kau nyanyikan lagu cinta
sambil tersenyum, kukayuhkan lagi perahu
belayar entah samudra mana
Dan kemudian dalam ketidakpastian ditulisnya “Between”:
In the rain we sketch a future
without frame, we hang it on the great wall
space just a shadow in the dark.
Beijing, 20 May 2006
Tetapi percintaan kian berangkat dewasa, seperti yang diakui:
bulan kembali tersipu dalam pekat
tanganmu merengkuh gelap
membenam rindu ke dasar danau
kuembuskan sepi
tetap tanpa suara.
(Momiji—malam itu di Yamanaka-ko)
Puisi-puisi romantis yang pecintaan ini, walaupun tidak seluruhnya membukakan inti rahsia apa yang berlaku karena penyairnya mengekangnya bagi kesadaran intelektual dan rasionalitinya. Namun keromantisannya dapat dirasakan. Ekspresi Wina SW1 yang akliyah ini, mengingatkan saya penyair lain mempunyai kepekaan intelektual-romantisme yang sama yakni Tuty Herati yang juga gesit dengan puisi cintanya dalam sajak 33. Apakah Wina SW1 juga peminat Tuty Herati? Saya kurang arif tentang ini.
III
Intelektualisme Wina SW1 yang mulai hidup sumber apinya itu mengiringi satu sisi kepenyairannya yakni kesadarannya terhadap cinta tanahair atau patriotisme. Walaupun dia jauh di Jepang bagi meneruskan ambisinya untuk menjadi doctor dalam ecology dan beo-energy, namun dia ikut peka kepada setiap yang berlaku di negerinya dan juga Indonesia. Malah kesannya lebih terasa apabila jauh dari tanah tumpah darahnya. Dia mengikuti sepenuhnya apa yang bergolak. Ratusan jiwa yang terkorban, negerinya bermandi darah rakyat yang tak berdosa. Perjuangan sudah disalahtafsir. Beliau juga turut berbelasungkawa atas tragedi Tsunami yang menimpa ribuan jiwa yang maut. Dia menangisi tragedi yang di luar dugaan itu. Banyak sajaknya yang siap sebagai turihan dada yang tersayat atas musibah itu. Tapi, tentu sahaja tidak ada kekuatannya untuk melawan takdir yang terjadi tetaplah terjadi. Dia menulis:
Prolog Bulan
Teman,
negeri penuh cinta dan doa
tempat impian setiap penyair
dan singgahan para pengembara
yang sering kuceritakan padamu
kini jadi kuburan panjang tak bernama
peristirahatan terakhir, mereka yang tercinta
Orang-orang penuh kehangatan
yang selalu menawarkan persaudaraan, dan hatinya
pada siapa saja
yang selalu kubanggakan padamu
kini entah di mana
pergi menuju keabadian panjang
lautku yang indah
yang kerap menghibur sepiku
melantunkan zikir dan bersyair bersama angin
melarutkan semua dalam amarahnya
merenggut hari dan hidup negeriku
sebelum sempat kaujejakkan kaki ke tanahku
sebelum sempat kausambut salam hangat mereka
sebelum sempat kaudengarkan alunan ayat-ayat tuhan
yang ditadaruskan bocah-bocah
dari balee-balee
negeriku kini
rumah tanpa beranda dan penghuni
Kyoto akhir Disember 2004
Wina dapat mencipta puisi yang mengharu kalbu buat ratusan ribu rakyat Aceh antaranya teman setaman sastrawan Aceh seperti Maskirbi korban Tsunami. Dengan amat plastis dia mengungkapkan:
maaf
karena tak ada selimut putih buat tidur panjangmu
atau keranda bertabur melati
dan sholat terakhir di meunasah
:engkau telah baringkan diri dalam diam,
entah di mana.
dan membuat batas panjang dalam sedetik
jarak tipis tak tertembus..
..tanpa Cinta-Nya
buat kita
cinta abadi berbalut rahasia yang tak pernah
maafmu tercerna.
Akhirmu
Laut mengantar pinangan
tanpa jeunamee dan idang meulapeh
maka menikahlah engkau dengan keabadian.
12 Jan 2005
Manifestasi kecintaan penyair dalam kumpulan ini tentulah diwakili oleh “Aceh Kekasihku”. Nah, dalam puisi ini kita dapat merasakan limpahan emosi penyair yang lebih menusuk, meruap dan berbinar. Hal ini dapat disadari oleh karena Aceh menghadapi dua ujian yang besar yakni perlawanan yang dicengkram oleh pemerintah dan kemudiannya menjadi sasaran Tsunami yang maha dahsyat dalam sejarah tamadun di alaf baru ini. Wina jauh di rantau, maka kreativitasnya intens dan “menjadi” dengan puitis dan indah. Ada baiknya direkam seluruhnya:
ACEH KEKASIHKU
MENCINTAIMU, Acehku
bagaikan menari di dasar samudera
bergerak tanpa suara, tanpa udara, tanpa cahaya
tak peduli lautan
menahan likok yang terus kutarikan dengan susah payah
melayangkanku dalam gerakan tanpa pola
ketenangan dunia bawah laut yang memabukkan
memenjarakanku dari dunia penuh cahaya di atas sana
Mencintaimu, Acehku
bagaikan terdampar di gurun tak bertuan
pasir dan angin menjadi lasykar badai
memutingbeliungkan semua langkah dan gerak
matahari membakar segala hidup
menghaguskan segala mati
fatamorgana jadi batas dua dunia
ketika rindu air tak pernah habisnya mengaliri jiwa
Mencintaimu, Acehku
tak pernah mudah
terkadang hatipun nyaris beku
peperangan dalam diri yang tak pernah usai
darah saudara yang terus memerahi bumi
mimpikan damai jadi bingkisan masa depan
bagi anak-anak kita
Mencintaimu, Acehku
adalah cinta tanpa batas
walaupun segala menikam dari segala sisi
rinduku padamu
tanah pembaringan sejuta syuhada
pentas seribu hikayat
negeri seratus pulau sepuluh bahasa
takkan pernah usai
Suara pucuk-pucuk karet dan sawit di bumi Tamiang
aroma pala, nilam dan birunya pantai Barat Selatan
rimbunnya Leusar di tanah Alas
dan hamparan bukit barisan
wangi kopi dan tepuk didong di tanah Gayo
tarian ikan aneka warna di dasar Iboh
legenda Simeulu yang tak pernah habis
dan tanah Pase yang mengawali aqidah ke bumi nusantara
suara senda pembuat emping, penyulam kasab dan kupiah riman di tanah Pidie
syair penari likok dari Pulo yang memabukkan
Rinduku padamu takkan pernah habis, Acehku
seteguk kopi panas dan sepotong jeumpahan di keude Beurawe,
kuah beulangong dan si manok di samahani
atau wajah-wajah bahagia pejual sirih dan pedagang kakilima
dengan panyot ceulot
di rusuk mesjid Baiturrahman yang melantunkan syair agung
Darussalam yang terus membuka pintu dunia
mengajarkan ilmu hati bagi sang penerus
Mencintaimu, Acehku
bagaikan suara azan bagi meunasah dan mesjid-mesjid
terus saja berkumandang setiap hari
mengalirkan kesejukan setiap hari
mengalirkan kesejukan dan kepasrahan pada sang Ilahi Rabbi
Aceh Kekasihku,
walau seribu perih menikam
dan secuil bahagia terus saja dirampas
aku akan selalu mencintaimu.
Lambhuk, 25 Pebruari 2007.
IV
Keintensitian yang berlaku tidak pula menyebabkan berlakunya streotaip kepada ekspresinya. Wina SW1 menggabungkan keseriusan terutama yang intelektual dengan nada romantisme yang suram dan penuh teka-teki. Dia bukanlah penyair yang prolifik, menulis dan memilih sekitar 100 puisi yang mewakilinya dalam jarak waktu 20 atau 25 tahun adalah wajar. Dia tidak memaksa kreativitasnya, meningkatkan pemanfaatan bahasa kesastraan peribadinya, walaupun ini belum disadari khalayak terbanyak karena Wina SW1 tidak menyiarkan sajak-sajaknya dalam ruangan khusus Koran berarus perdana. Mungkin selepas ini Garis akan menerima perhatian para editor puisi di ibu kota Jakarta dan lain-lain boleh mempublikasi puisi-puisinya. Memang terkesan perhatiannya diarahkan juga kepada masalah perempuan seperti yang diutarakannya dalam “Perempuan-perempuan Pantai” yang berkorban menanti para lelakinya mengharung gelombang, namun dia juga menghargai jasa para gurunya (mentornya) yang lelaki seperti kakek R.Soewardi yang ikut mempengaruhinya dalam ratib dan doa, juga terhadap Profesor Ali Hasjmy yang berbuat jasa untuk Aceh dalam seni sastra-budaya-adat istiadat dan pembangunan Universitas Syiah Kuala. Saya beranggapan Aceh dan Indonesia juga Nusantara menyambut kehadiran Wina SW1 sebagai penyair yang punya bobotnya yang tersendiri. Kehadirannya wajar diperhatikan!
*Diucapkan pada pembahasan Garis di Meja Budaya, Pusat Dokumentasi HB Jassin, DKJ, Cikini Jakarta, Indonesia pada 18 September 2007.
WINA SW1
WINA SW1 atau nama lengkapnya SYAFWINA SANUSI WAHAB, lahir di Banda Aceh 20 Pebruari 1969. Dia adalah pekerja seni teater, penulis dan pembaca puisi, peneliti, fotografer dan belakangan ini menekuni koreografi dan menarikan tari Aceh. Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala ini sedang menyelesaikan program PhD-nya dalam bidang bioenergi dan ekologi di Universitas Kyoto, Jepang. Kecintaannya pada tanah kelahirannya, di tengah-tengah kesibukan studinya itu mendorong beliau untuk memperkenalkan Aceh kepada masyarakat Jepang di Kyoto dan sekitarnya lewat tari, puisi, pameran foto, berbicarapada seminar-seminar dan sekolah-sekolah. Katanya “Saya ingin agar orang-orang Jepang dan orang di dunia tahu bahwa Aceh itu bukanlah tempat yang menakutkan. Aceh adalah negeri impian para penyair dan singgahan para pengembara. Tempat bermukim orang-orang berbudaya dengan penuh cinta.”
Puisi-puisinya sudah dipublikasi dalam berbagai antologi bersama, demikian juga karya cerpennya. Tari kreasi ‘KLEUNG’ dan ‘SALEUM’ sudah pernah ditarikan langsung di beberapa kota di kawasan Kansai (Jepang Barat).
DATO’ DR. AHMAD KAMAL ABDULLAH—KEMALA
Mantan Ketua Bahagian Kesusastraan Bandingan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dan Redaktur Dewan Sastra dan Editor majalah puisi PERISA. Dosen Penulisan puisi dan fiksyen di Universitas Malaya Kuala Lumpur. Pemula tradisi Pengucapan Puisi Dunia Kuala Lumpur (1986) Penerima SEA Write Award Thailand (1986). Duduk dalam komite
juri SEA Write (Malaysia), Hadiah Sastra Perdana Malaysia, Hadiah Sastra Mastera (Malaysia-Serantau). memenangkan Hadiah Kumpulan Puisi Hadiah Sastra Perdana Malaysia bagi kumpulan puisi Meditasi (1972), Titir Zikir (1995) dan MIM (1999). Beliau membaca puisi dalam festival Macedonian Poetry Evenings (1986),Puisi Asean (Jakarta, 1978), Moscow (1989), Koln (1989), London Box Theatre (1992), Iowa University (1993), Istiqlal International Poetry Reading (Jakarta, 1995), Santa Cruz (US, 1992), Bosnia Poetry Days (Sarejevo 1998), Puisi Indonesia Internasional 2002. Menjadi felo IWP, Iowa University (1993). Penasihat Editorial untuk Asia IQ-International (Philladelphia). Kini presiden Persatuan Kesusastraan Bandingan Malaysia. Menerima Anugerah Pujangga dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (2003, UPSI), Hadiah Tokoh Sastrawan Negeri Selangor (2005), Anugerah Abdul Rahman Auf (2006). Menerima Doktor Falsafah (2000) daripada Universiti Kebangsaan Malaysia dengan disertasi “Simbolisme Dalam Puisi Islam di Malaysia 1970-1990”. Menerima gelar Dato Paduka Mahkota Selangor (2001). Menerbitkan 9 kumpulan puisi Timbang Terima (1970), meditasi (1972), Era (1975), Kaktus-kaktus (1976), ‘Ayn (1983), Pelabuhan Putih (1989), Titir Zikir (1995), MIM (1999) dan Ziarah Tanah Kudup (2006).
sebuah karya
Thursday, September 20th, 2007GARIS Wina SW1
Buku puisi GARIS karya Wina SW1 yang diterbitkan oleh LAPENA (Banda Aceh), September 2007, telah diluncurkan di Taman Budaya Banda Aceh (9 September), Wapress (Warung Apresiasi) Bulungan, Jakarta (16 September) dan diskusi/debat buku dilakukan di Meja Budaya Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Berikut ini beberapa klipping berita tentang buku tersebut. Ada 3 penyair yang menulis pengantar dalam buku ini. Mereka adalah Kemala (Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah – Malaysia), D Kemalawati (penyair perempuan Aceh dan pengurus LAPENA) serta penyair besar Indonesia, si burung Merak, Rendra.
KORAN TEMPO
Kamis, 20 September 2007
Budaya
Puisi Garis Wina SW1
Penyair Wina SW1 meluncurkan kumpulan puisi tunggalnya bertajuk Garis di
Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta, Minggu malam lalu. Acara yang berlangsung santai dan renyah itu diwarnai dengan pembacaan puisi oleh Wina; Fachri Aly; Fikar W. Eda; sastrawan Malaysia, Datuk Kemala; Sawung Jabo; Anto Baret; dan musikalisasi oleh Sanggar Devies Matahari.
Selasa sore lalu, buku puisi itu didiskusikan di Meja Budaya, Pusat
Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Datuk Kemala tampil sebagai pembedah puisi-puisi itu.
Garis adalah kumpulan puisi tunggal pertama penyair kelahiran Banda Aceh, 20 Februari 1969, itu. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Lapena, Banda Aceh.
Buku setebal 176 halaman itu, menurut Wina, diluncurkan di Banda Aceh,
Jakarta, dan Jepang. Peluncuran di Banda Aceh dilakukan pada Minggu, 9
September lalu.
Peluncuran terakhir dilakukan di Kyoto, Jepang, tempat Wina menyelesaikan
program doktor di sebuah universitas, bulan ini. MUS
————–
Serambi : Budaya
Serambi Indonesia, 20/09/2007 03:30 WIB
Baca Puisi Penyair Wina SW1, Paket Tas Berisi
[ rubrik: Serambi | topik: Budaya ]
JAKARTA-Di tengah suasana Ramadhan yang khusuk, ditemani kopi Aceh, pulot panggang dan timphan, penyair perempuan asal Aceh, Wina SW1, meluncurkan buku kumpulan puisi tunggalnya, Garis, di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan Jakarta, Minggu (16/9) malam.
Musisi idealis Sawung Jabo, tokoh pemusik jalanan, Anto Baret, hingga pengamat politik Fachry Ali tampil bergiliran menyanyi-bacakan sajak-sajak penyair tersebut. Semua berlangsung spontanitas dan penuh warna warni.
Sastrawan asal Malaysia, Dato Ahmad Kamal Abdullah (Kemala) secara khusus terbang dari Kuala Lumpur. Ia pun telah menyiapkan kertas kerja yang panjang, membahas karya-karya Wina yang dibentangkannya dalam forum bedah buku Meja Budaya , Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (18/9).
Si Tukang Tutur Aceh, Agus PMTOH mengawal acara tersebut sejak awal hingga ditutup sekitar pukul 23.00 WIB. Peluncuran Garis ditandai dengan penyerahan paket tas berisi buku Garis dan kopi Aceh kepada Kemala, AR Ramly, Anto Baret, Sawung Jabo, dan penyair Doddy Achmad Fawdzi.
Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat dan bekas Dirut Pertamina, AR Ramly yang hadir di komunitas Wapres merasa terharu, setelah mengetahui Wina juga penyair. Selama ini, AR Ramly hanya mengenal wina sebagai ´cicit´ yang sedang menjalani pendidikan tingkat doktoral di Universitas Kyoto, Jepang.
Bekas pejabat zaman Orde Baru itu mengaku sepanjang hidupnya baru pertama kali menghadiri forum seperti malam itu, dan mengaku bangga sebab Wina, yang masih memiliki garis keluarga dengannya juga seorang sastrawan. Ramly juga memberi keterangan tambahan bahwa figur lelaki tua penjual kopi di ujung jembatan Beurawe, Banda Aceh dalam puisi berjudul Seorang Lelaki di Sebuah Kedai Kopi di Ujung Jembatan adalah keponakannya. Wina sendiri memanggil lelaki penjual kopi itu adalah kakek. Jadi begitulah garisnya, kata Ramly yang hadir ditemani sang istri.
Pertunjukan dibuka dengan penampilan Wina yang mengenakan kostum hitam-hitam bertabur motif kerawang Gayo, menarikan gerakan Tari Guel. Bagai sayap, sesekali ia mengibas-ngibaskan kain kerawang hitam sambil mengitari pentas yang tidak terlalu besar. Itulah tari persalaman dalam memberi penghormatan kepada tamu. Diiringi syair persalaman yang rekamannya tak terlalu bagus, Wina kemudian menimpalinya dengan back-sound puisi Seandainya Boleh Kutawar.
Seandainya boleh kutawar
akan kubeli dunia
kulukis wajah tanah kelahiran di tiap sudutnya
dimana suara angin mendo-da-i-di-kan-ku
gunung-gunung perkasa
menjaga lelapku
laut dan pantai berpasir putih menghiasi mimpiku
Kelompok Deavies Sanggar Matahari menghadirkan puisi Wina bejudul Garis dan Garis Laut dalam format musikalisasi puisi yang impresif. Menghadirkan suasana kontemplasi yang kuat sekali. Walau puisi itu digarap dalam jangka satu hari.
Setelah itu bertutur-turut tampil penyair Kemala membacakan puisi Prolog
Bulan, yang diakuinya sebagai puisi yang dia suka. Pengucapannya sederhana dan terdengar liris. Pembaca lainnya adalah Irmansyah, membawakan Perempuan Pantai dalam tarikan nada Sumatara Barat. Sawung Jabo yang sedang merampungkan rekaman terbarunya, sepontan naik panggung dan menyanyikan sebuah puisi pendek dengan petikan gitar akustik. Anto Baret, pria yang selalu mengenakan baret yang mengelola Wapres mengelaborasi puisi Wina lainnya dengan tampilan sangat ekspresif.
Pengamat politik Fachry Ali, membacakan sajak pendek Hasrat. Sajak ini ditulis Wina di Kyoto sebagai bentuk protes kepada dosennya. Ada lagi Doddy Ahmad Faudzi, penyair yang juga wartawan membacakan sebuah karya yang menurutnya sangat teratur susunan pemenggaran kata demi kata. Penyair asal Aceh lain, Mustafa Ismail, menyebut puisi Wina juga memuat unsur-unsur perlawanan. Pembaca lainnya adalah Ihwan Manggeng dan beberapa pembaca spontan lainnya.
Aneka Kegiatan
Wina yang memiliki nama panjang Syafwina Sanusi Wahab, adalah sosok perempuan yang memiliki aneka kagiatan. Penulis, dosen, peneliti, penari, koreografer, fotografer dan pekerja teater.
Lahir di Aceh 1969. Wina menjalani pendidikan dasar di SD Pocut Meuligoe, SMPN 2, SMAN 3, sarjana Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala, meraih master dalam bidang Applied Life Sciences dari Universitas Kyoto, Jepang. Saat ini tengah melanjutkan program doktoral dalam bidang Ecology and Environment di universitas yang sama.
Wina pernah menggeluti dunai jurnalistik pada majalah TIARA, dari group
Kompas-Gramedia Jakarta. Alumni The Ship for Southeast Asian Youth Program ––-program pertukaran pemuda Asia-Jepang angkatan 1990. Tahun 1995 berpidato atas nama pemuda 42 negara di depan Kaisar Jepang dan duta besar berbagai negara di Tokyo, dalam peringatan 50 tahun berakhirnya perang dunia II.
Sebagai penyair, karya-karya Wina terhimpun dalam berbagai buku kumpulan puisi bersama, Antologi Puisi Penyair Aceh, Titiamn Laut III, Nafas Tanah Rencong, Seulawah, Antologi Puisi Penyair Perempuan se Sumatra dan lain-lain.
Wina adalah sedikit dari perempuan Aceh yang terlibat intensif dalam dunia
kepengarangan. Garis adalah kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, memuat 85 judul puisi yang ditulis dalam rentang waktu awal kepenyairannya sampai sekarang.(fik)
Berikut dipetik seluruhnya teks pengantar oleh Dato’ Dr. Ahmad Kamal
Abdullah–Kemala dalam Kumpulan Garis (2007) oleh Wina SW1.
MEMBACA WINA SW1: MEMBACA GARIS-GARIS KASIH ABADI
CATATAN: KEMALA
SUARA Wina SW1 (lahir di Banda Aceh 20 Pebruari 1969) lunak, tegas
dan akliyah dalam puisinya tidak mungkin ditinggalkan begitu sahaja
kalau puisi penyair perempuan Indonesia dibicarakan. Dalam dua tiga
tahun kebelakangan ini ternyata beliau telah meningkat dewasa dari
aspek intelektualisme dan juga ekspresi puitiknya. Saya melihat
wujudnya gabungan dua unsur tersebut dengan harmonis.
Kini, Wina SW1 atau nama lengkapnya Syafwina Sanusi Wahab anak
kelahiran Aceh ini sedang menyelesaikan tingkat kedoktorannya di
Universitas Kyoto, Jepang. Bidang yang sedang ditekuninya adalah
Bioteknolgi dan Ekologi.
Puisinya sejak dahulu menanjakkan harkat cinta, pencarian makna diri
dan kemanusiaan. Selain penyair, Wina ingin dikenal
sebagai "Pekerja seni teater, pembaca puisi, peneliti, fotografer,
juga kareografer dan penari"
Sebelum berangkat ke Jepang dan sampai dengan sekarang ini, Wina
bertugas sebagai Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas
Syiah Kuala, Banda Aceh.
Pertemuan saya yang pertama dengan penyair ini berlaku pada saat
Dialog Utara di Alor Setar (1991). Pertemuan sekilas itu kemudian
berlanjut lagi pada satu siang dalam bulan Januari 1993 di Taman
Budaya, Banda Aceh. Wina dengan beberapa temannya sedang membuat
latihan mendendangkan bait-bait Seudati dan menarikan tari kesenian
Aceh.
Sebelumnya saya dibawa oleh Bapak Profesor A.Hasjmy berkunjung ke
Universitas Syiah Kuala dan berziarah ke Makam Syiah Kuala. Saya
sempat pula mewawancarai Prof. Dr Darwis Sulaiman tentang seluk-
beluk sastrawan Aceh dan penglibatan beliau dalam seni-budaya Aceh.
Dalam pertemuan saya dengan Wina, soal kejujuran, kesenian dan
keyakinan dan sikap berani karena benar, mempertahankan marwah
bangsa Aceh ditekankannya. Pada hemat saya, pada waktu itu Wina baru
menyiarkan sajak-sajak awalnya di media lokal juga satu dua pada
penerbitan Jakarta. Suaranya tegas dan yakin.
Walaupun pertemuan itu sejenak, tapi melekat dalam fikiran saya
hinga ke mana-mana. Ini potret penyair muda yang wajar diperhatikan.
Se,memangnya saya memerhatikan perkembangan Wina SW1 yang saya gelar Macan muda Aceh identitas yang dipakainya dalam profil milis
zikir_group@yahoogroups.com yang saya kendalikan.
Ketika bertemu di Taman Budaya Aceh itu, Wina hanya seorang penyair
muda dan aktivis budaya yang hanya dikenal di Banda Aceh dan belum
merata dikenal di Nusantara.
Selepas pertemuan kedua tersebut, kami sempat bertemu lagi pada Hari
Puisi Nasional (1998) di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.
Berbincang soal Aceh dan seni sampai pagi dengan ditemani Maskirbi
(alm) dan beberapa penyair muda Aceh di sebuah warung kopi. Setelah
itu komunikasi hanya terjalin lewat dunia maya dan baharulah pada
awal Juni 2007 yang lalu, Wina SW1 datang ke Kuala Lumpur dalam
rangka Seminar Bandingan Antarabangsa Kesusastraan Melayu 2007.
Dia membaca puisinya bersama-sama Taufiq Ismail, Wanda Leopolda, D.
Kemalawati dan Sastrawan Negara Malaysia Datuk A.Samad Said, yakni
pada Malam Puisi Cambahan Kasih dan Budi. Puisi yang
dipilihnya "Aceh kekasihku".
Dan waktu diadakan "Malam Musibah Berbuah Hikmah" di Kuala Lumpur
pada awal Januari 2005 sebagai sempena peristiwa Tsunami - walaupun
Wina tidak hadir, tetapi puisinya "Kalau Kau Mau Memaafkanku" ikut
dibacakan oleh penyair Malaysia Raja Rajeswari.
Sekiranya kita merujuk kepada pilihan dan pembacaannya itu, nafas
puisinya seolah-olah tidak dapat memisahkan dirinya dari persoalan
Aceh tanah tumpah darahnya. Tetapi ini tidaklah benar apabila saya
menyimak manuskrip "Garis" yang mengandung kurang dari 100 puisi:
Sejak dari persoalan hormat kepada sang guru, orang yang berjasa,
perjalanan cinta yang kian mendamba dan dengan segala misteriusnya,
ambisi yang wajar diberikan prioritas, uknum budaya di Negara asing
seperti Jepang dengan segala kelainan dan kekhasannya daripada
budaya Indonesia–yang perlu dihayatinya dan nostalgia lama bersama
rekan, keluarga dan "kekasih" yang kadang waktu datang mengusik dan
mengusapinya– dengan kepelbagaian unsur kemanusiaan dan
religiusitas, semuanya berjaya diungkapkan dengan rasa cita seni
puitis yang tinggi.
Puisi yang berakar kepada pengalaman peribadi memberikan kita pilihan
lain terhadap estetika yang murni. Ketegasan apabila membicarakan
hak Aceh untuk seganding dan diberikan perhatian jitu terhadap marwah
dan arti darah yang tumpah oleh pejuang-pejuang pribuminya sejak
ratusan tahun lagi, kini membawa kita kepada rasa puisi yang puitis
dengan segala kemanisan dan keharmonisannya.
Kepuitisannya itu tidak bermakna Wina SW1 hanyut dalam jalur emosi
hingga menjadi emosionil. Tidak, dan bukan begitu, beliau berjaya
mengharmoniskan dengan rasionalitas intelektuilnya. Inilah satu
peningkatan yang menyeimbangkan antara rasa dan akliyah.
Kita merasa berbahagia karena diwajarkan dengan intelektualisme dan
juga berasa dipedulikan dengan rasa kemanusiaan, dengan cinta kasih
yang abadi. Dia mengenang jasa guru spiritualnya yang
sufistik, "kakek" R. Soewardi:
Selamat jalan guruku. semoga rateb dan doa
jadi saksi pengabdianmu
jadi cahaya panjang dalam tidur panjangmu
(Sang Guru, 1997)
Kepada orang berjasa seperti A. Hasjmy yang mengabdi dengan ilmu dan
kepengarangannya, walaupun tidak dikaguminya, diekamnya secara
spontan dalam"ABU":
Ketakfahamanku kepada lakumu
karena telah kau buka pintu masa depan
kau nyalakan api yang tak pernah padam.
Suara anak-anak Aceh apabila menulis tentang Tsunami langsung dari
pusat kalbunya yang sahih, amat berlainan dari orang luar yang coba
mengendapkannya. Menjadi asyiklah kita kalau berjurus-jurus membaca
sajak-sajak Wina tentang Tsunami yang melanda Aceh. Seolah-olah
Wina menurih dada dan jantungnya sendiri. Temnnya pergi menuju
keabadian yang panjang.
negeriku kini
rumah tanpa beranda dan penghuni
(prolog bulan, 2005)
Maaf Tetapi penyair itu tetap menjalani kehidupan pribadinya yang katamu: Bulan kembali tersipu dalam pekat Membaca Garis Wina Sw1, saya ikut dipacu dengan keindahan rohaniah DATO’ DR. AHMAD KAMAL ABDULLAH (KEMALA)
Komentar RENDRA pada halaman sampul belakang buku GARIS
Penyair Wina SW1 sangat menguasai detail dari kahanan yang dilukiskannya, sehingga sanggup melukiskan satu gambaran yang segera bisa merangsang alam bawah sadar pembacanya. Kait mengait antara peristiwa jiwa dengan gambaran alam nyata terlukis dengan indah di dalam sajak-sajaknya (RENDRA)
karena tak ada selimut putih buat tidur panjangmu
atau shalat terakhir dimeunasah
:engkau telah baringkan diri dalam diam,
entah di mana.
(kalau kau mau memafkanku, 2005)
misterius. Kadangkali, disadari manusia di sekitarnya, dan banyak
juga yang kurang mengarifinya. Dan sebagai orang muda,
tentulah "menanggung rindu" dan "menahan ragam" juga. Wina menulis:
Ini kubawakan bulan buat malammu
tapi
kaucuri matahariku
sehingga aku tak lagi punya pagi.
(Rayuan, 1999)
tanganmu merengkuh gelap
membenam rindu kedasar danau
kuhembuskan sepi
tetap tanpa suara
(Momiji–Malam itu di Yamanaka-ko, 1994)
dan cinta kudus yang mampu dihadiahkan oleh puisi-puisi yang puitis
dan harmonis dan daya akliyah yang tekal. Kalau sudah begitu,
marilah kita rayakan kehadiran seorang lagi penyair perempuan yang
punya bobot dan posisinya yang sahih di tengah-tengah peta
kesusastraan Indonesia!
Kuala Lumpur Malaysia, 11 Agustus 2007
dato_kemala@…
In penyair@yahoogroups.com, budhi setyawan <budhisetya69@>
wrote:
Kemarin sore 18 September pukul 15.30, digelar acara diskusi dalam
rangkaian peluncuran buku kumpulan puisi GARIS karya WINA SW1 (Aceh)
di Meja Budaya Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
Acara dibuka oleh Mas Endo Senggono Kepala Perpustakaan PDS.
Kemudian secara panjang lebar diuraikan tentang beberapa puisi Wina
oleh Dato’ DR. AKHMAD KAMAL ABDULLAH-KEMALA (Malaysia): Antara
Romantisme dan Intelektualisme.
Puisi GARIS terdapat dalam subkumpulan Garis Puisi, merupakan
puisi di halaman pertama buku itu.Berikut puisi tsb:
GARIS
Terkadang jarak yang tidak mungkin kita tembusi
sehingga kita berkencan dengan waktu
dan orang-orang menatapnya penuh tanda tanya
kita juga terlalu suka bercermin di kaca yang sama
jadi kita taidak pernah tahu
mengapa wajah kita jadi berbeda
di cermin yang mereka pasang
rasanya kita tidak perlu mendakwa Tuhan
buat menghukum mereka
lebih baik, kita terus saja berlayar
bercinta di atas angin
dan menelan rindu yang ada diam-diam
hidup juga tidak bisa berbuat lain
apalagi mereka
1989
dan puisi yang banyak ditanyakan oleh sastrawan & undangan adalah
yang berjudul Tentang "T". Wina sendiri yang Dosen Teknik Kimia
Fakultas teknik Universitas Syiah Kuala dan sedang menyelesaikan
program PHD-nya dalam bidang bioenergi dan ecologi di Universitas
Kyoto Jepang ini, tak menjelaskan siapa "T" itu dalam puisi yang
ditulisnya tahun 1988 tsb. Puisi tsb ada dalam bukuny halaman 102.
TENTANG T
Dia pernah minta aku mencuri bulan
buat menghiasi malamnya
dia juga pernah minta aku mengikat waktu
agar hari tetap pagi
dan sekarang dia ingin aku
mencuri matahari
buat mengiasi dadanya
Banda Aceh, 1988
kemudian dibacakan secara berantai oleh sebagian sastrawan & ACEH KEKASIHKU Mencintaimu, Acehku ……..(dan seterusnya) kemudian ada beberapa pertanyaan dan pernyataan dari beberapa PERSIMPANGAN aku telah membelokkannya Mei 1994 lalu saya ikut2an baca (sambil belajar) salah satu puisinya DIALOG DIALOG HUJAN hening menyimpan gejolak yang bergemuruh mengapa kita harus menyulut bara 2007 saya yang membolos di jam kantor (semoga atasan saya gak tau….), Acara sederhana tapi cukup riuh dengan semangat tersebut, berakhir Selamat & sukses Wina. (maaf bila masih banyak kekurangan dalam sekelumit berita ini) salam,
undangan yang hadir puisi yang agak panjang yang berjudul : ACEH
KEKASIHKU. Ini sebagian bait puisi tsb:
bagaikan menari di dasar samudera
bergerak tanpa suara, tanpa udara, tanpa cahaya
tak peduli lautan
menahan likok yang terus kutarikan dengan susah payah
melayangkanku dalam gerakan tanpa pola
ketenangan dunia bawah laut yang memabukkan
memenjarakanku dari dunia penuh cahaya di atas sana
sastrawan tentang beberapa puisi Wina, serta membacakan puisinya
juga. beberapa sastrawan yang hadir: Mas Yonathan Raharjo, Mas
Dharmadi, Bung Cides (ejaannya benar gak ya?), dll. Mas Yonathan
membacakan 2 puisi dengan sangat bersemangat, salah satunya berjudul
menjadi ketidakpastian
dan sekarang, aku menuntut suatu kepastian
setelah kepastian itu jadi pasti,
apalagi yang harus dipastikan
HUJAN.
di sudut yang tak tersentuh
bila tak ingin nyalanya
membakar sepuluh purnama
dua ratus sembilan puluh sembilan matahari
berusaha menangkap seluruh perkataan dari Dato’ Kemala, walaupun
beberapa tidak begitu jelas karena logat Malaysia/Melayu-nya masih
lumayan kental.
beberapa menit sebelum adzan maghrib. begitu suara adzan terdengar,
maka segera berbuka puasa dengan teh/kopi panas dan makanan khas
Aceh…(maaf lupa namanya)
selamat kembali ke kampus sembari melukis sakura dan Fujiyama.
Budhi Setyawan
Sabtu, 15 September 2007
http://www.acehmagazine.com/index.php?action=HotNews&no=arf845
Penyair Aceh Luncur Puisi di Jakarta dan Kyoto
Jakarta , acehmagazine.com
Penyair perempuan Aceh, Wina SW1 meluncurkan buku antologi puisinya
Garis di Jakarta pada 16 dan 18 September. Sebelumnya, pada 9
September, buku setebal 176 halaman ini sudah diluncurkan di Banda
Aceh. Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kyoto pada September ini.
"Minggu sore ini, diskusi dan peluncuran buku ini di Warung Apresiasi
Jakarta dan Selasa sore (18/9) di Meja Bundar Pusat Dokumentasi Sastra
HB Jasin Taman Ismail Marzuki Sastra HB Jassin (PDS HB Jassin) Selasa
(19/9) dengan menampilkan pembicara sastrawan asal Malaysia, Dato’
Kemala," sebut Fikar W Eda, panitia pelaksana kepada acehmagazine.com,
Jumat (14/9)
Fikar menyebutkan, "Garis" merupakan kumpulan puisi Wina sejak
menjadi penyair di Banda Aceh hingga melanjutkan program doktor di
Kyodo Jepang. Buku bersampul hitam ini merefleksikan berbagai
persoalan sosial kemasyarakatan di Aceh. Buku sederhana ini
diterbitkan oleh Lapena, lembaga yang akhir-akhir ini banyak
menerbitkan buku sastra. "Beberapa kata dalam puisi memakai istilah
dari bahasa Aceh, Malaysia dan Jepang lengkap dengan penjelasan,"
tambah Fikar yang juga penyair asal Aceh di Jakarta.
Wina yang memiliki nama lengkap Syafwina Sanusi Wahab dalam halaman
pertama buku itu menulis banyak impian yang salah satunya membukukan
puisi-puisi agar orang lain juga bisa ikut baca. "Aku tak peduli,
apakah ini (isi buku ini) bisa disebut sebuah karya sastra atau tidak?
Itu tidak penting," gugatnya singkat. (rizal)
|
Serambi Indonesia, 16 September 2007 Rubrik: Serambi |
Edisi: 16/09/2007 03:42:50 |
||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
