sebuah karya
GARIS Wina SW1
Buku puisi GARIS karya Wina SW1 yang diterbitkan oleh LAPENA (Banda Aceh), September 2007, telah diluncurkan di Taman Budaya Banda Aceh (9 September), Wapress (Warung Apresiasi) Bulungan, Jakarta (16 September) dan diskusi/debat buku dilakukan di Meja Budaya Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Berikut ini beberapa klipping berita tentang buku tersebut. Ada 3 penyair yang menulis pengantar dalam buku ini. Mereka adalah Kemala (Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah – Malaysia), D Kemalawati (penyair perempuan Aceh dan pengurus LAPENA) serta penyair besar Indonesia, si burung Merak, Rendra.
KORAN TEMPO
Kamis, 20 September 2007
Budaya
Puisi Garis Wina SW1
Penyair Wina SW1 meluncurkan kumpulan puisi tunggalnya bertajuk Garis di
Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta, Minggu malam lalu. Acara yang berlangsung santai dan renyah itu diwarnai dengan pembacaan puisi oleh Wina; Fachri Aly; Fikar W. Eda; sastrawan Malaysia, Datuk Kemala; Sawung Jabo; Anto Baret; dan musikalisasi oleh Sanggar Devies Matahari.
Selasa sore lalu, buku puisi itu didiskusikan di Meja Budaya, Pusat
Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Datuk Kemala tampil sebagai pembedah puisi-puisi itu.
Garis adalah kumpulan puisi tunggal pertama penyair kelahiran Banda Aceh, 20 Februari 1969, itu. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Lapena, Banda Aceh.
Buku setebal 176 halaman itu, menurut Wina, diluncurkan di Banda Aceh,
Jakarta, dan Jepang. Peluncuran di Banda Aceh dilakukan pada Minggu, 9
September lalu.
Peluncuran terakhir dilakukan di Kyoto, Jepang, tempat Wina menyelesaikan
program doktor di sebuah universitas, bulan ini. MUS
————–
Serambi : Budaya
Serambi Indonesia, 20/09/2007 03:30 WIB
Baca Puisi Penyair Wina SW1, Paket Tas Berisi
[ rubrik: Serambi | topik: Budaya ]
JAKARTA-Di tengah suasana Ramadhan yang khusuk, ditemani kopi Aceh, pulot panggang dan timphan, penyair perempuan asal Aceh, Wina SW1, meluncurkan buku kumpulan puisi tunggalnya, Garis, di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan Jakarta, Minggu (16/9) malam.
Musisi idealis Sawung Jabo, tokoh pemusik jalanan, Anto Baret, hingga pengamat politik Fachry Ali tampil bergiliran menyanyi-bacakan sajak-sajak penyair tersebut. Semua berlangsung spontanitas dan penuh warna warni.
Sastrawan asal Malaysia, Dato Ahmad Kamal Abdullah (Kemala) secara khusus terbang dari Kuala Lumpur. Ia pun telah menyiapkan kertas kerja yang panjang, membahas karya-karya Wina yang dibentangkannya dalam forum bedah buku Meja Budaya , Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (18/9).
Si Tukang Tutur Aceh, Agus PMTOH mengawal acara tersebut sejak awal hingga ditutup sekitar pukul 23.00 WIB. Peluncuran Garis ditandai dengan penyerahan paket tas berisi buku Garis dan kopi Aceh kepada Kemala, AR Ramly, Anto Baret, Sawung Jabo, dan penyair Doddy Achmad Fawdzi.
Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat dan bekas Dirut Pertamina, AR Ramly yang hadir di komunitas Wapres merasa terharu, setelah mengetahui Wina juga penyair. Selama ini, AR Ramly hanya mengenal wina sebagai ´cicit´ yang sedang menjalani pendidikan tingkat doktoral di Universitas Kyoto, Jepang.
Bekas pejabat zaman Orde Baru itu mengaku sepanjang hidupnya baru pertama kali menghadiri forum seperti malam itu, dan mengaku bangga sebab Wina, yang masih memiliki garis keluarga dengannya juga seorang sastrawan. Ramly juga memberi keterangan tambahan bahwa figur lelaki tua penjual kopi di ujung jembatan Beurawe, Banda Aceh dalam puisi berjudul Seorang Lelaki di Sebuah Kedai Kopi di Ujung Jembatan adalah keponakannya. Wina sendiri memanggil lelaki penjual kopi itu adalah kakek. Jadi begitulah garisnya, kata Ramly yang hadir ditemani sang istri.
Pertunjukan dibuka dengan penampilan Wina yang mengenakan kostum hitam-hitam bertabur motif kerawang Gayo, menarikan gerakan Tari Guel. Bagai sayap, sesekali ia mengibas-ngibaskan kain kerawang hitam sambil mengitari pentas yang tidak terlalu besar. Itulah tari persalaman dalam memberi penghormatan kepada tamu. Diiringi syair persalaman yang rekamannya tak terlalu bagus, Wina kemudian menimpalinya dengan back-sound puisi Seandainya Boleh Kutawar.
Seandainya boleh kutawar
akan kubeli dunia
kulukis wajah tanah kelahiran di tiap sudutnya
dimana suara angin mendo-da-i-di-kan-ku
gunung-gunung perkasa
menjaga lelapku
laut dan pantai berpasir putih menghiasi mimpiku
Kelompok Deavies Sanggar Matahari menghadirkan puisi Wina bejudul Garis dan Garis Laut dalam format musikalisasi puisi yang impresif. Menghadirkan suasana kontemplasi yang kuat sekali. Walau puisi itu digarap dalam jangka satu hari.
Setelah itu bertutur-turut tampil penyair Kemala membacakan puisi Prolog
Bulan, yang diakuinya sebagai puisi yang dia suka. Pengucapannya sederhana dan terdengar liris. Pembaca lainnya adalah Irmansyah, membawakan Perempuan Pantai dalam tarikan nada Sumatara Barat. Sawung Jabo yang sedang merampungkan rekaman terbarunya, sepontan naik panggung dan menyanyikan sebuah puisi pendek dengan petikan gitar akustik. Anto Baret, pria yang selalu mengenakan baret yang mengelola Wapres mengelaborasi puisi Wina lainnya dengan tampilan sangat ekspresif.
Pengamat politik Fachry Ali, membacakan sajak pendek Hasrat. Sajak ini ditulis Wina di Kyoto sebagai bentuk protes kepada dosennya. Ada lagi Doddy Ahmad Faudzi, penyair yang juga wartawan membacakan sebuah karya yang menurutnya sangat teratur susunan pemenggaran kata demi kata. Penyair asal Aceh lain, Mustafa Ismail, menyebut puisi Wina juga memuat unsur-unsur perlawanan. Pembaca lainnya adalah Ihwan Manggeng dan beberapa pembaca spontan lainnya.
Aneka Kegiatan
Wina yang memiliki nama panjang Syafwina Sanusi Wahab, adalah sosok perempuan yang memiliki aneka kagiatan. Penulis, dosen, peneliti, penari, koreografer, fotografer dan pekerja teater.
Lahir di Aceh 1969. Wina menjalani pendidikan dasar di SD Pocut Meuligoe, SMPN 2, SMAN 3, sarjana Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala, meraih master dalam bidang Applied Life Sciences dari Universitas Kyoto, Jepang. Saat ini tengah melanjutkan program doktoral dalam bidang Ecology and Environment di universitas yang sama.
Wina pernah menggeluti dunai jurnalistik pada majalah TIARA, dari group
Kompas-Gramedia Jakarta. Alumni The Ship for Southeast Asian Youth Program ––-program pertukaran pemuda Asia-Jepang angkatan 1990. Tahun 1995 berpidato atas nama pemuda 42 negara di depan Kaisar Jepang dan duta besar berbagai negara di Tokyo, dalam peringatan 50 tahun berakhirnya perang dunia II.
Sebagai penyair, karya-karya Wina terhimpun dalam berbagai buku kumpulan puisi bersama, Antologi Puisi Penyair Aceh, Titiamn Laut III, Nafas Tanah Rencong, Seulawah, Antologi Puisi Penyair Perempuan se Sumatra dan lain-lain.
Wina adalah sedikit dari perempuan Aceh yang terlibat intensif dalam dunia
kepengarangan. Garis adalah kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, memuat 85 judul puisi yang ditulis dalam rentang waktu awal kepenyairannya sampai sekarang.(fik)
Berikut dipetik seluruhnya teks pengantar oleh Dato’ Dr. Ahmad Kamal
Abdullah–Kemala dalam Kumpulan Garis (2007) oleh Wina SW1.
MEMBACA WINA SW1: MEMBACA GARIS-GARIS KASIH ABADI
CATATAN: KEMALA
SUARA Wina SW1 (lahir di Banda Aceh 20 Pebruari 1969) lunak, tegas
dan akliyah dalam puisinya tidak mungkin ditinggalkan begitu sahaja
kalau puisi penyair perempuan Indonesia dibicarakan. Dalam dua tiga
tahun kebelakangan ini ternyata beliau telah meningkat dewasa dari
aspek intelektualisme dan juga ekspresi puitiknya. Saya melihat
wujudnya gabungan dua unsur tersebut dengan harmonis.
Kini, Wina SW1 atau nama lengkapnya Syafwina Sanusi Wahab anak
kelahiran Aceh ini sedang menyelesaikan tingkat kedoktorannya di
Universitas Kyoto, Jepang. Bidang yang sedang ditekuninya adalah
Bioteknolgi dan Ekologi.
Puisinya sejak dahulu menanjakkan harkat cinta, pencarian makna diri
dan kemanusiaan. Selain penyair, Wina ingin dikenal
sebagai "Pekerja seni teater, pembaca puisi, peneliti, fotografer,
juga kareografer dan penari"
Sebelum berangkat ke Jepang dan sampai dengan sekarang ini, Wina
bertugas sebagai Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas
Syiah Kuala, Banda Aceh.
Pertemuan saya yang pertama dengan penyair ini berlaku pada saat
Dialog Utara di Alor Setar (1991). Pertemuan sekilas itu kemudian
berlanjut lagi pada satu siang dalam bulan Januari 1993 di Taman
Budaya, Banda Aceh. Wina dengan beberapa temannya sedang membuat
latihan mendendangkan bait-bait Seudati dan menarikan tari kesenian
Aceh.
Sebelumnya saya dibawa oleh Bapak Profesor A.Hasjmy berkunjung ke
Universitas Syiah Kuala dan berziarah ke Makam Syiah Kuala. Saya
sempat pula mewawancarai Prof. Dr Darwis Sulaiman tentang seluk-
beluk sastrawan Aceh dan penglibatan beliau dalam seni-budaya Aceh.
Dalam pertemuan saya dengan Wina, soal kejujuran, kesenian dan
keyakinan dan sikap berani karena benar, mempertahankan marwah
bangsa Aceh ditekankannya. Pada hemat saya, pada waktu itu Wina baru
menyiarkan sajak-sajak awalnya di media lokal juga satu dua pada
penerbitan Jakarta. Suaranya tegas dan yakin.
Walaupun pertemuan itu sejenak, tapi melekat dalam fikiran saya
hinga ke mana-mana. Ini potret penyair muda yang wajar diperhatikan.
Se,memangnya saya memerhatikan perkembangan Wina SW1 yang saya gelar Macan muda Aceh identitas yang dipakainya dalam profil milis
zikir_group@yahoogroups.com yang saya kendalikan.
Ketika bertemu di Taman Budaya Aceh itu, Wina hanya seorang penyair
muda dan aktivis budaya yang hanya dikenal di Banda Aceh dan belum
merata dikenal di Nusantara.
Selepas pertemuan kedua tersebut, kami sempat bertemu lagi pada Hari
Puisi Nasional (1998) di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.
Berbincang soal Aceh dan seni sampai pagi dengan ditemani Maskirbi
(alm) dan beberapa penyair muda Aceh di sebuah warung kopi. Setelah
itu komunikasi hanya terjalin lewat dunia maya dan baharulah pada
awal Juni 2007 yang lalu, Wina SW1 datang ke Kuala Lumpur dalam
rangka Seminar Bandingan Antarabangsa Kesusastraan Melayu 2007.
Dia membaca puisinya bersama-sama Taufiq Ismail, Wanda Leopolda, D.
Kemalawati dan Sastrawan Negara Malaysia Datuk A.Samad Said, yakni
pada Malam Puisi Cambahan Kasih dan Budi. Puisi yang
dipilihnya "Aceh kekasihku".
Dan waktu diadakan "Malam Musibah Berbuah Hikmah" di Kuala Lumpur
pada awal Januari 2005 sebagai sempena peristiwa Tsunami - walaupun
Wina tidak hadir, tetapi puisinya "Kalau Kau Mau Memaafkanku" ikut
dibacakan oleh penyair Malaysia Raja Rajeswari.
Sekiranya kita merujuk kepada pilihan dan pembacaannya itu, nafas
puisinya seolah-olah tidak dapat memisahkan dirinya dari persoalan
Aceh tanah tumpah darahnya. Tetapi ini tidaklah benar apabila saya
menyimak manuskrip "Garis" yang mengandung kurang dari 100 puisi:
Sejak dari persoalan hormat kepada sang guru, orang yang berjasa,
perjalanan cinta yang kian mendamba dan dengan segala misteriusnya,
ambisi yang wajar diberikan prioritas, uknum budaya di Negara asing
seperti Jepang dengan segala kelainan dan kekhasannya daripada
budaya Indonesia–yang perlu dihayatinya dan nostalgia lama bersama
rekan, keluarga dan "kekasih" yang kadang waktu datang mengusik dan
mengusapinya– dengan kepelbagaian unsur kemanusiaan dan
religiusitas, semuanya berjaya diungkapkan dengan rasa cita seni
puitis yang tinggi.
Puisi yang berakar kepada pengalaman peribadi memberikan kita pilihan
lain terhadap estetika yang murni. Ketegasan apabila membicarakan
hak Aceh untuk seganding dan diberikan perhatian jitu terhadap marwah
dan arti darah yang tumpah oleh pejuang-pejuang pribuminya sejak
ratusan tahun lagi, kini membawa kita kepada rasa puisi yang puitis
dengan segala kemanisan dan keharmonisannya.
Kepuitisannya itu tidak bermakna Wina SW1 hanyut dalam jalur emosi
hingga menjadi emosionil. Tidak, dan bukan begitu, beliau berjaya
mengharmoniskan dengan rasionalitas intelektuilnya. Inilah satu
peningkatan yang menyeimbangkan antara rasa dan akliyah.
Kita merasa berbahagia karena diwajarkan dengan intelektualisme dan
juga berasa dipedulikan dengan rasa kemanusiaan, dengan cinta kasih
yang abadi. Dia mengenang jasa guru spiritualnya yang
sufistik, "kakek" R. Soewardi:
Selamat jalan guruku. semoga rateb dan doa
jadi saksi pengabdianmu
jadi cahaya panjang dalam tidur panjangmu
(Sang Guru, 1997)
Kepada orang berjasa seperti A. Hasjmy yang mengabdi dengan ilmu dan
kepengarangannya, walaupun tidak dikaguminya, diekamnya secara
spontan dalam"ABU":
Ketakfahamanku kepada lakumu
karena telah kau buka pintu masa depan
kau nyalakan api yang tak pernah padam.
Suara anak-anak Aceh apabila menulis tentang Tsunami langsung dari
pusat kalbunya yang sahih, amat berlainan dari orang luar yang coba
mengendapkannya. Menjadi asyiklah kita kalau berjurus-jurus membaca
sajak-sajak Wina tentang Tsunami yang melanda Aceh. Seolah-olah
Wina menurih dada dan jantungnya sendiri. Temnnya pergi menuju
keabadian yang panjang.
negeriku kini
rumah tanpa beranda dan penghuni
(prolog bulan, 2005)
Maaf Tetapi penyair itu tetap menjalani kehidupan pribadinya yang katamu: Bulan kembali tersipu dalam pekat Membaca Garis Wina Sw1, saya ikut dipacu dengan keindahan rohaniah DATO’ DR. AHMAD KAMAL ABDULLAH (KEMALA)
Komentar RENDRA pada halaman sampul belakang buku GARIS
Penyair Wina SW1 sangat menguasai detail dari kahanan yang dilukiskannya, sehingga sanggup melukiskan satu gambaran yang segera bisa merangsang alam bawah sadar pembacanya. Kait mengait antara peristiwa jiwa dengan gambaran alam nyata terlukis dengan indah di dalam sajak-sajaknya (RENDRA)
karena tak ada selimut putih buat tidur panjangmu
atau shalat terakhir dimeunasah
:engkau telah baringkan diri dalam diam,
entah di mana.
(kalau kau mau memafkanku, 2005)
misterius. Kadangkali, disadari manusia di sekitarnya, dan banyak
juga yang kurang mengarifinya. Dan sebagai orang muda,
tentulah "menanggung rindu" dan "menahan ragam" juga. Wina menulis:
Ini kubawakan bulan buat malammu
tapi
kaucuri matahariku
sehingga aku tak lagi punya pagi.
(Rayuan, 1999)
tanganmu merengkuh gelap
membenam rindu kedasar danau
kuhembuskan sepi
tetap tanpa suara
(Momiji–Malam itu di Yamanaka-ko, 1994)
dan cinta kudus yang mampu dihadiahkan oleh puisi-puisi yang puitis
dan harmonis dan daya akliyah yang tekal. Kalau sudah begitu,
marilah kita rayakan kehadiran seorang lagi penyair perempuan yang
punya bobot dan posisinya yang sahih di tengah-tengah peta
kesusastraan Indonesia!
Kuala Lumpur Malaysia, 11 Agustus 2007
dato_kemala@…
In penyair@yahoogroups.com, budhi setyawan <budhisetya69@>
wrote:
Kemarin sore 18 September pukul 15.30, digelar acara diskusi dalam
rangkaian peluncuran buku kumpulan puisi GARIS karya WINA SW1 (Aceh)
di Meja Budaya Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
Acara dibuka oleh Mas Endo Senggono Kepala Perpustakaan PDS.
Kemudian secara panjang lebar diuraikan tentang beberapa puisi Wina
oleh Dato’ DR. AKHMAD KAMAL ABDULLAH-KEMALA (Malaysia): Antara
Romantisme dan Intelektualisme.
Puisi GARIS terdapat dalam subkumpulan Garis Puisi, merupakan
puisi di halaman pertama buku itu.Berikut puisi tsb:
GARIS
Terkadang jarak yang tidak mungkin kita tembusi
sehingga kita berkencan dengan waktu
dan orang-orang menatapnya penuh tanda tanya
kita juga terlalu suka bercermin di kaca yang sama
jadi kita taidak pernah tahu
mengapa wajah kita jadi berbeda
di cermin yang mereka pasang
rasanya kita tidak perlu mendakwa Tuhan
buat menghukum mereka
lebih baik, kita terus saja berlayar
bercinta di atas angin
dan menelan rindu yang ada diam-diam
hidup juga tidak bisa berbuat lain
apalagi mereka
1989
dan puisi yang banyak ditanyakan oleh sastrawan & undangan adalah
yang berjudul Tentang "T". Wina sendiri yang Dosen Teknik Kimia
Fakultas teknik Universitas Syiah Kuala dan sedang menyelesaikan
program PHD-nya dalam bidang bioenergi dan ecologi di Universitas
Kyoto Jepang ini, tak menjelaskan siapa "T" itu dalam puisi yang
ditulisnya tahun 1988 tsb. Puisi tsb ada dalam bukuny halaman 102.
TENTANG T
Dia pernah minta aku mencuri bulan
buat menghiasi malamnya
dia juga pernah minta aku mengikat waktu
agar hari tetap pagi
dan sekarang dia ingin aku
mencuri matahari
buat mengiasi dadanya
Banda Aceh, 1988
kemudian dibacakan secara berantai oleh sebagian sastrawan & ACEH KEKASIHKU Mencintaimu, Acehku ……..(dan seterusnya) kemudian ada beberapa pertanyaan dan pernyataan dari beberapa PERSIMPANGAN aku telah membelokkannya Mei 1994 lalu saya ikut2an baca (sambil belajar) salah satu puisinya DIALOG DIALOG HUJAN hening menyimpan gejolak yang bergemuruh mengapa kita harus menyulut bara 2007 saya yang membolos di jam kantor (semoga atasan saya gak tau….), Acara sederhana tapi cukup riuh dengan semangat tersebut, berakhir Selamat & sukses Wina. (maaf bila masih banyak kekurangan dalam sekelumit berita ini) salam,
undangan yang hadir puisi yang agak panjang yang berjudul : ACEH
KEKASIHKU. Ini sebagian bait puisi tsb:
bagaikan menari di dasar samudera
bergerak tanpa suara, tanpa udara, tanpa cahaya
tak peduli lautan
menahan likok yang terus kutarikan dengan susah payah
melayangkanku dalam gerakan tanpa pola
ketenangan dunia bawah laut yang memabukkan
memenjarakanku dari dunia penuh cahaya di atas sana
sastrawan tentang beberapa puisi Wina, serta membacakan puisinya
juga. beberapa sastrawan yang hadir: Mas Yonathan Raharjo, Mas
Dharmadi, Bung Cides (ejaannya benar gak ya?), dll. Mas Yonathan
membacakan 2 puisi dengan sangat bersemangat, salah satunya berjudul
menjadi ketidakpastian
dan sekarang, aku menuntut suatu kepastian
setelah kepastian itu jadi pasti,
apalagi yang harus dipastikan
HUJAN.
di sudut yang tak tersentuh
bila tak ingin nyalanya
membakar sepuluh purnama
dua ratus sembilan puluh sembilan matahari
berusaha menangkap seluruh perkataan dari Dato’ Kemala, walaupun
beberapa tidak begitu jelas karena logat Malaysia/Melayu-nya masih
lumayan kental.
beberapa menit sebelum adzan maghrib. begitu suara adzan terdengar,
maka segera berbuka puasa dengan teh/kopi panas dan makanan khas
Aceh…(maaf lupa namanya)
selamat kembali ke kampus sembari melukis sakura dan Fujiyama.
Budhi Setyawan
Sabtu, 15 September 2007
http://www.acehmagazine.com/index.php?action=HotNews&no=arf845
Penyair Aceh Luncur Puisi di Jakarta dan Kyoto
Jakarta , acehmagazine.com
Penyair perempuan Aceh, Wina SW1 meluncurkan buku antologi puisinya
Garis di Jakarta pada 16 dan 18 September. Sebelumnya, pada 9
September, buku setebal 176 halaman ini sudah diluncurkan di Banda
Aceh. Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kyoto pada September ini.
"Minggu sore ini, diskusi dan peluncuran buku ini di Warung Apresiasi
Jakarta dan Selasa sore (18/9) di Meja Bundar Pusat Dokumentasi Sastra
HB Jasin Taman Ismail Marzuki Sastra HB Jassin (PDS HB Jassin) Selasa
(19/9) dengan menampilkan pembicara sastrawan asal Malaysia, Dato’
Kemala," sebut Fikar W Eda, panitia pelaksana kepada acehmagazine.com,
Jumat (14/9)
Fikar menyebutkan, "Garis" merupakan kumpulan puisi Wina sejak
menjadi penyair di Banda Aceh hingga melanjutkan program doktor di
Kyodo Jepang. Buku bersampul hitam ini merefleksikan berbagai
persoalan sosial kemasyarakatan di Aceh. Buku sederhana ini
diterbitkan oleh Lapena, lembaga yang akhir-akhir ini banyak
menerbitkan buku sastra. "Beberapa kata dalam puisi memakai istilah
dari bahasa Aceh, Malaysia dan Jepang lengkap dengan penjelasan,"
tambah Fikar yang juga penyair asal Aceh di Jakarta.
Wina yang memiliki nama lengkap Syafwina Sanusi Wahab dalam halaman
pertama buku itu menulis banyak impian yang salah satunya membukukan
puisi-puisi agar orang lain juga bisa ikut baca. "Aku tak peduli,
apakah ini (isi buku ini) bisa disebut sebuah karya sastra atau tidak?
Itu tidak penting," gugatnya singkat. (rizal)
|
Serambi Indonesia, 16 September 2007 Rubrik: Serambi |
Edisi: 16/09/2007 03:42:50 |
||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
September 24th, 2007 at 6:32 pm
congratzzzzzz,gurl. u did it, u dan’ gud.send me one, plzzzz